HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN
KUNTO DARUSSALAM (9/1) – Jemaat HKBP Sei Intan melaksanakan ibadah Minggu dengan khidmat dan rasa aman melalui dukungan program “Minggu Kasih” dari Polsek Kunto Darussalam. Kehadiran pihak kepolisian di tengah jemaat bertujuan untuk menjamin keamanan sekaligus membangun komunikasi dua arah antara gereja dan aparat penegak hukum. Dalam pertemuan tersebut, jemaat mendapatkan edukasi mengenai pentingnya menjaga kerukunan serta mewaspadai potensi gangguan keamanan di lingkungan sekitar. Perwakilan jemaat mengapresiasi perhatian ini karena memberikan ketenangan selama rangkaian ibadah berlangsung. Sinergi ini diharapkan terus mempererat hubungan baik antara warga HKBP Sei Intan dan kepolisian demi terciptanya lingkungan yang damai dan kondusif.
TARUTUNG (8/1) – Mengawali gerak pelayanan tahun baru, jajaran pimpinan HKBP menggelar Rapat Pimpinan (Rapim) perdana 2026 di Rura Silindung. Pertemuan strategis ini dipimpin langsung oleh Ompu i Ephorus dan dihadiri oleh Sekretaris Jendral, Kepala Departemen Koinonia, Kepala Departemen Marturia dan Kepala Departemen Diakonia. Fokus utama pelayanan HKBP tahun ini ditetapkan pada orientasi “Pengajaran Iman di Tengah Keluarga.” Melalui tema ini, pimpinan berharap setiap keluarga jemaat menjadi pusat pertumbuhan rohani yang kokoh. Pdt. Deonal Sinaga melalui pesan hangatnya mengajak seluruh jemaat menyambut pelayanan tahun ini dengan kesehatan dan sukacita, seraya memohon berkat Tuhan agar visi penguatan iman keluarga dapat terwujud secara nyata.
PEARAJA (9/1) – Kepala Departemen Koinonia HKBP, Pdt. Dr. Deonal Sinaga, menyampaikan duka mendalam atas berpulangnya Dr. Jochen Motte, seorang teolog brilian dan pejuang Hak Asasi Manusia (HAM). Kepergian Dr. Motte merupakan kehilangan besar bagi gereja-gereja anggota United Evangelical Mission (UEM) serta gerakan oikumene global. Almarhum dikenal sebagai sosok pemimpin berintegritas tinggi dengan dedikasi luar biasa terhadap nilai-nilai universal, terutama keadilan bagi sesama dan kelestarian keutuhan ciptaan. Melalui pesan penghormatannya, Pdt. Deonal mendoakan agar Tuhan memberikan kekuatan serta penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan. Warisan perjuangan Dr. Motte dalam menyuarakan keadilan diharapkan terus menginspirasi pelayanan gereja di seluruh dunia.
LUBUK PAKAM (8/1) – Jemaat dan pelayan HKBP Bakaran Batu merayakan syukuran Tahun Baru di kediaman Pendeta Resort, Pdt. Lismeliana br. Simaremare, bersama Pendeta Fungsional, Pdt. br. Sinurat. Acara penuh kehangatan ini dihadiri oleh seluruh Parhalado serta perwakilan Punguan Kategorial, termasuk Punguan Ama, Ina Kamis, dan Ina Gloria. Jemaat menyampaikan apresiasi atas sambutan kasih dan pelayanan luar biasa dari keluarga pendeta dalam jamuan tersebut. Melalui momentum ini, terselip doa agar para pelayan semakin antusias memberitakan Firman Tuhan, keluarga diberkati, dan kerinduan pelayanan di tahun ini terkabul. Semoga seluruh kategorial semakin solid dan jemaat HKBP Bakaran Batu senantiasa dalam limpahan berkat Tuhan.
PEARAJA (9/1) – Dari kediaman yang sejuk di Pearaja Tarutung, Ephorus HKBP membagikan pesan penguatan “Vitamin bagi Jiwa” bagi seluruh jemaat. Beliau menekankan bahwa kedamaian sejati bukan berasal dari hilangnya beban hidup, melainkan dari cara hati memandang perjalanan bersama Tuhan. Ephorus mengajak jemaat melakukan tiga refleksi iman: menerima masa lalu dengan syukur atas kasih karunia-Nya, menjalani hari ini dengan ketekunan iman bahwa Tuhan menyertai setiap jerih payah, dan menyambut masa depan dengan pengharapan karena hari esok berada dalam genggaman Tuhan. Pesan ini ditutup dengan doa agar damai sejahtera dan sukacita Tuhan senantiasa menuntun langkah setiap sahabat Kristus.
SIBOLGA (7/1) – Kepala Departemen Diakonia HKBP, Pdt. Eldarton Simbolon, mengunjungi jemaat HKBP Resort Bonandolok pada Rabu. Pertemuan penuh sukacita ini merangkul jemaat dari HKBP Bonandolok, Simaninggir, dan Meranti yang terdampak bencana. Dalam aksi ini, Departemen Diakonia menyalurkan paket sembako, pakaian kebaya baru sumbangan jemaat DKI Jakarta, serta uang duka bagi keluarga korban meninggal melalui dana Ale-ale Diakonia. Pdt. Eldarton turut mengenang perjuangan jemaat yang sempat berjalan kaki tiga jam menuju Sibolga demi mendapatkan bantuan pada Desember lalu. Suasana haru memuncak saat kaum ibu menyanyikan pujian “Nang Gumalunsang Angka Laut” sebagai syukur atas bantuan yang tepat sasaran. Pelayanan ini menegaskan komitmen HKBP untuk terus hadir mendampingi jemaat di masa pemulihan.
PEARAJA (6/1) – Tim Peduli Kasih HKBP menetapkan penyaluran bantuan tahap lanjutan sebesar Rp4 miliar bagi warga terdampak bencana ekologis di Aceh dan Sumatera. Alokasi dana ini merupakan tambahan setelah sebelumnya HKBP menyalurkan hampir Rp5 miliar dalam bentuk sembako dan tunai. Bantuan ini difokuskan bagi 73 keluarga berduka, perbaikan ribuan rumah yang rusak maupun hancur, serta pemulihan warga yang kehilangan lahan pertanian. Melalui langkah ini, HKBP memastikan kehadiran gereja secara nyata dalam meringankan beban ekonomi dan mempercepat rehabilitasi kehidupan jemaat. Transparansi data donatur dan penyaluran tetap dapat dipantau melalui portal resmi https://pedulikasihhkbp.net.
PANGARIBUAN (7/1) – Pada awal tahun 2026, HKBP Resort Lontung menerima kucuran dana hibah dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara untuk mendukung keberlanjutan pelayanan. Dukungan tersebut disalurkan melalui rekening BPD Sumut bagi renovasi dua gereja pagaran, yakni HKBP Simaninggir dan HKBP Lobugala, dengan alokasi masing-masing sebesar Rp20.000.000. Selain bantuan fisik, Pemkab Taput juga memberikan insentif bagi para Guru Sekolah Minggu di tujuh gereja se-Resort Lontung senilai total Rp7.000.000. Penerimaan bantuan ini menjadi bukti nyata apresiasi pemerintah di bawah kepemimpinan Bupati JTP Hutabarat terhadap peran strategis HKBP dalam mendidik karakter generasi muda serta membangun fasilitas peribadatan yang layak bagi masyarakat.
SIBOLGA (6/1) – Kediaman Pendeta Resort HKBP Sibolga I dipenuhi suasana sukacita dalam acara Open House perayaan Tahun Baru 2026. Momen istimewa ini dihadiri langsung oleh Praeses HKBP Distrik IX Sibolga-Tapanuli Tengah-Nias beserta istri, seluruh pelayan penuh waktu (Full Timer), serta keluarga besar Parhalado HKBP Sibolga Julu. Pertemuan berlangsung penuh kehangatan, mempererat tali persaudaraan antar-pelayan di awal tahun. Dalam kebersamaan yang bahagia ini, terucap doa dan harapan agar sinergi serta semangat pelayanan seluruh jajaran pelayan semakin solid. Semoga di tahun yang baru ini, setiap karya pelayanan HKBP di Sibolga semakin berdampak nyata dan menjadi saluran berkat bagi seluruh jemaat.
Berita Terkini HKBP



Renungan Harian HKBP
Renungan Terkini
RENUNGAN Minggu I Setelah Epiphanias: Minggu, 11 Jan 2026
Yesaya 42:1-9 “Allah menyatakan keselamatan”
Bapa Ibu Saudara/i yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus…Selamat hari Minggu.
Pada Minggu I setelah Ephipanias ini, kita akan bersekutu dengan Tuhan melalui Firmannya. Marilah kita berdoa :
“Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, itulah yang memelihara hati dan pikiranmu, dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Amin”
Firman Tuhan yang menjadi khotbah bagi kita pada Minggu I set. Ephipanias ini:
Yesaya 42:1-9 “Allah Menyatakan Keselamatan”
Prinsip “siapa yang kuat, dia yang selamat” (Survival of the Fittest) yang dipopulerkan filsuf Herbet Spencer, mengandung arti bahwa keselamatan itu bergantung pada diri manusia itu sendiri: kekuatannya, kekayaannya, kemampuan, kepintarannya. Dengan demikian, posisi orang yang lemah, miskin akan sulit mendapat kesempatan,Bahkan bisa saja terancam. Seperti terkandung dalam falsafah Batak “Na bisuk nampuna hata, na oto tu pargadisan”, seseorang bisa mengendalikan oranglain yang lebih lemah nalar atau kemampuan berpikirnya.
Namun dalam nas ini ditunjukkan bahwa Tuhan tidak membiarkan umatnya berada dalam prinsip hidup yang sedemikian, makanya Ia hadir melalui seorang “hamba” yang diutus ke tengah dunia yang telah rusak tersebut. Sang mesias yang disebut “hamba” Tuhan bertindak dengan penuh kasih dan perhatian. Pertama, secara khas Tuhan menunjukan bahwa keselamatan yang akan dihadirkan tertuju bagi semua pihak, bahkan bagi setiap mereka yang tidak lagi sanggup untuk mempertahankan dirinya. Keselamatan itu tidak perlu dimiliki dengan prinsip ‘yang kuat yang akan bertahan’ karena TUHAN sendirilah yang akan menguatkan mereka yang lemah demi mengalami keselamatan. Dengan kata lain, keselamatan dari TUHAN adalah murni anugerah yang merangkul, menguatkan, dan membangkitkan setiap orang.
Kedua, Hamba Tuhan tersebut membawa harapan, pemulihan, dan keadilan sejati dengan cara yang lembut dan penuh kasih, mengundang setiap orang untuk mengalami dan membagikan kabar baik ini. Dia bekerja atas pimpinan Roh Allah, sehingga Ia bertindak sesuai dengan tuntunan Roh itu: menegakkan keadilan bukan hanya bagi Israel tetapi bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Ia akan menjadi terang bagi bangsa-bangsa, membuka mata orang buta, membebaskan tawanan, dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap. Ia tidak akan berseru atau membentak; Ia tidak akan mematahkan buluh yang terkulai atau memadamkan sumbu yang pudar, melainkan dengan lembut memulihkan mereka yang rusak dan putus asa. TUHAN menyatakan hal-hal baru, hal-hal yang belum terjadi, yaitu karya keselamatan dan keadilan-Nya yang baru melalui Hamba-Nya.
Ini adalah kabar baik bagi kita dan telah nyata di dalam karya penebusan Yesus yang universal, yang menguatkan dan meneguhkan iman kita, di dalam Yesus hamba Allah yang telah menyatakan diriNya diam bersama dengan kita, akan bertindak menyelamatkan kita. Seperti buluh yang patah dan sumbu yang pudar, orang yang merasa tidak berharga atau berdosa tetap berharga di mata Yesus. Dia tidak akan membuang kita. Yesus datang untuk memperbaiki dunia dengan kelembutan. Kita dapat datang kepada-Nya dengan segala kelemahan dan dosa, dan Dia akan menerima kita. Amin.
************************
EPISTEL:
KISAH PARA RASUL 10:34-43
Kita diciptakan Tuhan berbeda, namun bukan berarti kita dibeda-bedakan. Kenyataannya, dalam relasi sosial, sering terjadi pembeda-bedaan atas suku, marga, ras, warna kulit dan bahasa, termasuk strata sosial. Yang lebih parah, terjadi sikap rasialis yang menghasilkan ketidakadilan, pertikaian, bahkan peperangan. Orang Yahudi pernah mengalami penderitaan dahsyat karena perlakuan rasialis dari bangsa Jerman. Namun banyak orang Yahudi pada masa Perjanjian Baru pun bersikap rasialis. Mereka merasa satu-satunya umat Allah yang berhak atas semua janji-Nya. Bangsa-bangsa lain tak lebih daripada binatang yang tak layak mendapat anugerah Allah.
Khotbah Petrus kepada Kornelius dengan tegas menyatakan bahwa Allah tidak membedakan orang. Allah berkenan atas setiap orang dari bangsa manapun yang datang dengan tulus mencari-Nya termasuk Kornelius yang adalah seorang kafir. Rahasia perkenanan Allah atas semua orang ini terletak pada diri Yesus Kristus (ayat 36-38). Yesus yang datang ke dunia ini mengerjakan karya keselamatan untuk membuat orang berkenan kepada Allah. Melalui kematian-Nya di salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus telah menyediakan jalan keselamatan untuk semua orang, semua bangsa.
Petrus, sebagai seorang Yahudi belajar mengatasi sikap rasialis dan menerima Kornelius, seorang kafir sebagai sesama manusia yang dikasihi Allah (ayat 34). Bahkan Petrus menyadari bahwa panggilannya mengikut Yesus adalah untuk memberitakan keselamatan bagi semua orang (ayat 42). Jika Yesus telah menerima semua orang dari suku bangsa manapun dan memberikan keselamatan kepada mereka yang percaya kepadaNya, bukankah kita juga seharusnya meneladani sikap Yesus tersebut? Kita patut bersyukur karena hanya oleh karya Kristuslah kita bisa datang kepada Allah dan layak disebut sebagai umat-Nya. Tugas kita sekarang adalah memberitakan anugerah itu kepada semua orang lintas ras, suku, bangsa, dan bahasa, juga status sosial. Amin.
Pdt. Daniel Napitupulu
Renungan Marturia: Sabtu, 10 Januari 2026
Yohanes 3:16
Bapak, Ibu, Saudara Sekalian, Dalam kehidupan sehari-hari, kata kasih sering terdengar, namun tidak selalu mudah untuk dijalani. Kita hidup di dunia yang penuh perhitungan: untung dan rugi, aman dan berisiko, memberi sejauh tidak merugikan diri sendiri. Banyak relasi rusak karena kasih dipahami sebatas perasaan, bukan komitmen. Kita mencintai selama tidak terluka, memberi selama masih nyaman. Di tengah realitas inilah Yohanes 3:16 berbicara dengan sangat tajam dan jujur.
Kasih Allah dalam ayat ini bukan kasih yang abstrak atau sekadar emosi ilahi. Kata “begitu besar” menunjukkan ukuran kasih yang melampaui batas kewajaran manusia. Allah mengasihi dunia—bukan hanya orang benar, bukan hanya orang yang diannggap layak, tetapi dunia yang telah jatuh dalam dosa dan pemberontakan. Kasih ini tidak berhenti pada niat baik, melainkan diwujudkan melalui tindakan nyata yaitu Allah memberikan Anak-Nya.
Bapak, Ibu, Saudara Sekalian, “Memberikan Anak” dalam nas ini adalah tindakan yang penuh risiko dan penderitaan. Kasih Allah bukan kasih yang aman. Ia tahu dunia akan menolak, dunia akan menghakimi, bahkan dunia akan menyalibkan Anak-Nya. Namun Allah tetap memilih jalan itu. Di sinilah Injil menjadi sangat realistis: keselamatan tidak datang dari usaha manusiayang naik kepada Allah, melainkan dari Allah yang turun memasuki kerapuhan manusia.
Tujuan kasih ini juga jelas: supaya manusia tidak binasa. Ini bukan ancaman kosong, melainkan pengakuan jujur tentang kondisi manusia tanpa Allah yaitu hidup yang kehilangan arah, yang kehilangan makna, dan pengharapan sejati. Namun Allah tidak berhenti pada penyelamatan dari kebinasaan; Ia menawarkan hidup yang kekal, yaitu relasi yang dipulihkan dengan-Nya, mulai sekarang dan berlanjut sampai kekekalan.
Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur: bagaimana kita merespons kasih sebesar itu? Percaya kepada Kristus bukan hanya soal pengakuan iman, tetapi keberanian untuk menyerahkan hidup kepada kasih yang mengubah. Di dunia yang penuh ketakutan, sinisme, dan kelelahan rohani, Yohanes 3:16 mengingatkan bahwa kita hidup karena terlebih dahulu dikasihi.
Bapak, Ibu, Saudara Sekalian, Marilah kita berhenti memandang diri kita hanya dari kegagalan dan ketidaklayakan. Terimalah kasih Allah yang telah dinyatakan di dalam Kristus. Dan sebagai jemaat yang telah dikasihi, marilah kita belajar mengasihi dengan tindakan nyata—berani memberi, berani peduli, dan berani hidup dalam terang kasih Tuhan di tengah dunia yang terluka. Amin.
CGr Jeffry Tarihoran
Renungan Harian HKBP Jumat, 9 Januari 2026
“Diberkati, Dijagai, Dirahmati”
Bilangan 6:24-26
Doa Pembuka:
Tuhan yang penuh kasih, kami datang kepada-Mu membawa hidup kami apa adanya. Di tengah berbagai keadaan yang kami jalani hari ini, sukacita, kelelahan, harapan, maupun kekhawatiran, kami datang kepada-Mu, kami rindu mendengar suara-Mu. Melalui firman-Mu, ajar kami untuk percaya bahwa hidup kami ada dalam penjagaan, berkat, dan rahmat-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa,
Amin.
Amang/inang saudara/I yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Firman Tuhan yang menyapa kita hari ini diambil dari Bilangan 6:24-26 beginilah firman Tuhan:
24 Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
25 Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
26 Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
Amang/inang, saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan,
Firman ini dikenal sebagai berkat yang diucapkan oleh imam kepada umat saat itu. Namun berkat ini bukan sekadar penutup ibadah atau rangkaian kata indah yang dihafalkan. Di dalamnya, Allah sendiri sedang menyatakan sikap hati-Nya kepada umat-Nya. Tercatat, tiga kali nama TUHAN diucapkan, seakan menegaskan bahwa pusat dari kehidupan umat bukanlah keadaan, usaha, atau kemampuan manusia, melainkan Allah sendiri. Segala yang kita perlukan, baik penjagaan, berkat, kasih karunia, maupun damai sejahtera, semuanya bersumber dari Allah semata.
Pernyataan berkat ini lahir bukan dari situasi atau suasana yang nyaman dan ideal, melainkan dari perjalanan umat yang masih belajar percaya, masih sering goyah, dan masih menghadapi ketidakpastian. Namun justru di tengah kondisi seperti itulah Allah menghadirkan janji yang menenangkan, bahwa hidup umat-Nya tidak dibiarkan berjalan sendirian. Ketika berkat ini diucapkan, Allah seakan menunduk, mendekatkan diri dan berkata dengan lembut, ‘Aku menyertaimu’
Selanjutnya, ketika berkat “TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau.” diucapkan, kita diajak untuk meyakini bahwa Allah memberkati bukan hanya dengan pemberian, tetapi juga dengan menjaga. Kita perlu menyadari dan menerima bahwa hidup sering kali membawa kita pada hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan, seperti masa depan yang belum jelas, kesehatan, atau situasi yang berubah tiba-tiba, bahkan keamanan hidup sekalipun. Namun firman ini mengingatkan kita bahwa ada Penjaga yang setia, yang tidak pernah lengah dan tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan selalu menghadirkan perlawatan yang tidak pernah kita duga dalam hidup kita dan membawa kita pada keyakinan bahwa akan selalu ada tangan yang menopang hidup kita, bahkan ketika kita tidak sanggup menopang diri sendiri.
Firman ini lalu berkata, “ Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;” Wajah Allah yang bersinar adalah wajah yang berkenan dan penuh kasih, bukan wajah yang menghakimi. Ia tidak berpaling ketika kita lelah, ketika kita gagal dan merasa tidak layak. Justru dalam kelemahan itulah kasih karunia-Nya dinyatakan. Kita diingatkan bahwa kita hidup bukan karena kita kuat, melainkan karena Allah, dan kemurahan hati-Nya, yang terus menghadapkan wajah-Nya kepada kita dan memberi anugerah yang memulihkan bagi kita.
Akhirnya, firman ini ditutup dengan janji yang meneduhkan: “Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” Damai yang dimaksud bukanlah hidup tanpa luka atau masalah, melainkan keadaan ketika hidup penuh gumul dan juang, kita tetap bisa berjalan. Damai sejahtera lahir dari keyakinan bahwa Allah memperhatikan hidup kita secara pribadi, hadir dengan kepedulian yang penuh, dan tidak meninggalkan kita di tengah pergumulan.
Amang/inang, saudara/saudari yang terkasih. Firman Tuhan hari ini akhirnya mengundang kita menjalani hari dengan langkah yang lebih tenang dan berpengharapan. Hidup kita dijagai oleh-Nya, maka kita tak perlu larut dalam kekhawatiran. Hidup kita diberkati oleh-Nya, maka tak perlu kita cemas. Hidup kita dirahmati oleh-Nya, maka kita boleh belajar mengasihi dan mengampuni sesama. Dalam penjagaan, berkat, dan rahmat Tuhan, kita menemukan kekuatan untuk terus berjalan, satu hari demi satu hari, dan menjadi saluran damai sejahtera bagi dunia di sekitar kita.
Amin
Doa Penutup:
Tuhan Yesus yang penuh kasih, terima kasih atas firman yang mengingatkan kami bahwa Engkau senantiasa memberkati, menjaga, dan merahmati, serta menghadapkan wajah-Mu atas hidup kami. Jagalah kami hari ini, limpahi kami dengan kasih karunia-Mu, dan berikanlah damai sejahtera-Mu tinggal di hati kami. Ajarlah kami hidup dengan percaya dan menjadi pembawa damai bagi sesama. Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa.
Amin.
CPdt. Randi Simbolon, S.Si. Teol
RENUNGAN MARTURIA: Kamis, 8 Januari 2026
Doa Pembuka:
Bapa yang Mahabaik, yang kami sembah di dalam Anak-Mu, Yesus Kristus, Tuhan kami, kami bersyukur atas kebaikan dan penyertaan-Mu di dalam kehidupan kami sampai saat ini. Pada waktu ini kami datang dengan hati yang rindu akan firman-Mu. Bukalah pikiran dan hati kami agar kami mampu mendengar, memahami, dan menghidupi kehendak-Mu. Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Renungan:
Bapak Ibu yang dikasihi Tuhan, Firman Tuhan yang menjadi renungan kita hari ini tertulis dalam Lukas 4:18-19, demikian:
”Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”
Bapak-Ibu, salah satu ciri kehidupan kita hari ini adalah semuanya bergerak sangat cepat. Teknologi semakin maju, ekonomi berkembang, dan berbagai sistem dibuat untuk membuat hidup terasa lebih praktis. Kita seperti hidup di tengah cerita yang dibentuk masyarakat tentang apa yang dianggap berhasil, aman, dan layak dihargai. Ritme demikian membuat kita mudah merasa tertinggal dari orang lain, mudah membandingkan diri dengan orang lain, dan mudah cemas terhadap dunia sekitar kita. Tidak sedikit orang akhirnya merasa terjebak dalam kehidupan yang dibentuk berdasarkan ambisi, standar sosial, dan tekanan sehari-hari sering membuat kita kehilangan arah.
Di tengah keadaan itulah, Yesus datang dengan kabar yang sangat berbeda. Yesus menyatakan,
“Roh Tuhan ada pada-Ku… Aku datang membawa kabar baik… pembebasan… pemulihan… tahun rahmat Tuhan.”
Kalimat yang diucapkan Yesus ini adalah kalimat yang juga diucapkan oleh Nabi Yesaya (Yes. 61:1-2), yang disampaikan pada masa pasca-pembuangan Israel. Yesus mengutip kembali teks itu karena situasi umat Yahudi pada zaman-Nya memiliki kesamaan, yakni hidup miskin di bawah penjajahan Romawi, mengalami tekanan ekonomi dan sosial, serta merasa tertindas, sangat mirip dengan keadaan bangsa Israel setelah kembali dari pembuangan.
Firman Tuhan hari ini menegaskan bahwa Yesus datang untuk membawa kabar baik bagi yang merasa kecil, memulihkan hati yang terluka, membebaskan mereka yang tertawan oleh beban hidup, dan membuka jalan baru bagi yang kehilangan harapan. Ia mengumumkan tahun rahmat Tuhan, yaitu masa ketika Allah memberi kesempatan baru untuk bangkit dan dipulihkan. Yesus sengaja tidak melanjutkan bagian Yesaya tentang pembalasan karena fokus kedatangan-Nya adalah rahmat, bukan penghakiman (Yes. 61:2). Melalui diri-Nya, Allah menghadirkan kabar baik bagi yang tertekan, arah baru bagi yang bingung, dan kelegaan bagi mereka yang terikat oleh rasa bersalah, tekanan hidup, atau ketidakpastian masa depan, sebab banyak orang yang tidak terpenjara secara fisik pun tetap hidup dalam belenggu yang tidak terlihat.
Bapak Ibu yang dikasihi Tuhan, memasuki tahun yang baru ini, Yesus kembali mengingatkan bahwa Allah telah menyatakan Tahun Rahmat-Nya melalui Yesus Kristus. Melalui Dialah, kita diberikan penyertaan dan tuntunan untuk mengatasi segala beban atau pun kekhawatiran kita. Tahun Rahmat Tuhan, berarti kita tidak dibiarkan berjalan sendiri di tahun ini, bahkan tahun-tahun berikutnya, tetapi ditolong dan disertai oleh-Nya. Mari percaya dan berharap teguh pada-Nya, sembari membenahi, menyerahkan dan memperbaharui hidup, agar kita sejalan dengan kehendak-Nya. Amin.
Doa Penutup:
Bapa yang Mahabaik, terima kasih atas firman-Mu yang telah kami dengar. Tolong kami untuk menghidupinya dalam kehidupan kami sehari-hari. Di dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, kami berdoa. Amin.
CPdt. Daniel Purba
Renungan Marturia: Rabu, 7 Januari 2026
Nats Renungan: Imamat 1:1-2
Shalom Bapak Ibu saudara-saudari yang terkasih dalam nama Kristus Yesus, sebelum kita mendengarkan Firman Tuhan, kita satukan hati kita, kita berdoa. Syukur bagimu ya Allah Bapa yang bertakhta dalam Kerajaan Sorga, Engkau memanggil kami untuk mendengarkan FirmanMu. Buka hati dan pikiran kami agar FirmanMu dapat hidup dalam kehidupan kami, Amin. Yang menjadi nats renungan pada kita hari ini, tertulis dalam Imamat Pasal yang pertama ayat sampai dua, demikian Firman Tuhan:
Ayat 1: TUHAN memanggil Musa dan berfirman kepadanya dari dalam Kemah Pertemuan:
Ayat 2: Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.
Bapak Ibu saudara-saudari, ada banyak suara yang memanggil manusia hari ini, suara tuntutan pekerjaan, suara ekspetasi keluarga, suara media sosial yang menuntut pengakuan, bahkan suara hati yang sering diliputi kecemasan dan rasa tidak layak. Namun ditengah hiruk pikuk itu, pertanyaan yang paling mendasar adalah suara siapa yang pertama sekali paling kita dengar Bapak Ibu. Imamat 1:1 ini membuka renungan ini dengan pertanyaan yang sangat sederhana, yakni Tuhan memanggil Musa dan berfirman kepadanya, artinya adalah Allah adalah Pribadi yang memulai relasi itu. Ia tidak menunggu manusia mencapai kesempurnaan, melainkan memanggil manusia dari tengah realitas hidupnya. Allah memanggil Musa dari dalam kemah pertemuan ini sangat penting, karena kemah pertemuan adalah simbol kehadiran Allah ditengah umat yang masih rapuh, yang masih baru keluar dari perbudakan Mesir. Allah tidak menunggu Israel menjadi bangsa yang matang secara moral terlebih dahulu. Ia hadir lebih dulu, memanggil lebih dulu, dan berbicara lebih dahulu. Artinya Allah berinisiatif, maka dapat dikatakan bahwa Ibadah bukanlah inisiatif manusia kepada Allah, tetapi respons manusia terhadap panggilan Allah, maka jangan tunggu bagaimana kematangan hidup kita, tetapi segera merespons panggilan inisiatif Allah memanggil kita umatnya, dan dikatakan juga apabila seorang mempersembahkan Korban kepada Tuhan. Kalimat ini juga berarti bahwa Allah juga yang membuka jalan, korban bukan sekedar ritual kosong, melainkan sarana relasi. Melalui korban manusia belajar bahwa mendekat kepada Allah yang Kudus dilakukan dengan cara sembarangan. Ada kesadaran akan dosa, kesadaran akan pengorbanan, adanya penyerahan diri, maka dapat dikatakan Bapak Ibu saudara-saudari terkasih, Allah menyediakan cara agar manusia tidak binasa oleh KekudusanNya, tetapi dipulihkan olehNya, maka dizaman ketika Ibadah direduksi menjadi rutinitas, sering dianggap sebagai formalitas, pengalaman emosional sesaat. Maka melalui Imamat 1:1-2 mengingatkan bahwa, Ibadah yang sejati dimulai dari kesadaran bahwa Allah lebih dahulu memanggil kita. Kita datang beribadah bukan karena kita layak, melainkan karena Allah berkenan berbicara menerima kita, membuka tanganNya. Dia tersalibkan dengan tangan yang terbuka, merangkul semua orang. Ibadah bukanlah panggung untuk menunjukkan kesalehan, tetapi ruang perjumpaan kepada Allah yang Kudus dan penuh Anugerah, Amen. Kita bersatu dalam doa. Kembali kami mengucap syukur ya Bapa buat BerkatMu, FirmanMu yang menyapa kami, yang mengajarkan kami Engkau adalah Allah yang berinisiatif untuk meanggil kami, untuk merangkul kami, untuk mengajak kami lebih dekat kepadaMu ya Tuhan, maka ajarilah kami, Roh KudusMu yang membumbing kami, agar kami semakin memahami panggilan yang daripadaMu dan semakin mendekatkan diri kepadaMu ya Bapa. Tuntun kami agar kami mampu melakukan FrimanMu dalam kehidupan kami dalam Kristus Yesus kami berdoa, Amin
CPdt. Sebastian Butarbutar, S. Th.
Renungan Marturia: Selasa, 6 Januari 2026
Doa Pembuka,
Bapa kami di Surga, kami bersyukur untuk penyertaan dan kasih setia-Mu yang senantiasa hadir dalam hidup kami. Kami bersyukur Tuhan atas Kesehatan dan sukacita yang Kau berikan kepada kami hingga saat ini. Untuk memulai segala aktivitas dan pelayanan kami dalam satu hari ini, kami mau mendengarkan firman-Mu untuk dapat menopang dan menguatkan kami. Bukalah hati dan pikiran kami agar firman-Mu dapat melekat dalam hidup kami. Amin.
Renungan
Markus 1:15
“Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus, seberapa sering kita menunda sesuatu karena hal tersebut tidak begitu penting? Dan setelah ditunda apakah hal tersebut akan dilakukan? Atau mungkin jadi tidak dilakukan sama sekali? Sering kali kita mendulukan hal-hal yang tidak begitu penting dalam hidup ini, terlebih dalam hidup Kristen yang benar, sering kita tidak mendulukan kepentingan firman Tuhan dalam hidup kita masing-masing. Markus 1:15 merupakan ajakan yang tepat untuk kita tidak terlarut dalam hidup yang terus menunda, terlebih untuk bertobat dan percaya kepada Injil karena waktu telah genap. Ini bukan sesuatu yang harus ditunda, tapi harus dilakukan sekarang juga.
Tuhan melalui firman ini datang dalam waktu yang tepat. Disaat kita telah tergoda dan terjebak dalam dosa dan kejahatan dunia ini, Ia hadir untuk mengingatkan kita untuk bertobat dan turut pada Injil. Apa yang kita alami saat ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan rencana Tuhan untuk kita dapat tetap tertuju padaNya. Setiap rintangan pergumulan yang hadir, Tuhan juga turut serta didalamnya. Ia selalu menyertai dan menuntun kita menuju kehidupan yang lebih baik. Kerajaan Allah sudah dekat, bagaimana kita dapat merasakan Kerjaan Allah tersebut? Ketika kita mendengar kata Kerajaan, yang terlintas dipikiran kita ialah adanya aturan dan pemerintahan. Lantas dimana kita dapat menemukannya dalam hidup kehidupan kita sehari-hari? Sebagai umat Kristen, Tuhan memerintahkan kita dalam segala hal, dan berkat-Nya pun tersalur dalam kehidupan kita, namun masih banyak dari kita yang hanya mau menerima berkat tapi tidak mau menyatakan Kerajaan Allah dalam kehidupannya.
Bertobatlah! Bukan hanya hanya sebatas kata-kata dan keinginan sesaat, tapi sadari dan padangalah firman Tuhan, jika sebelumnya kita hanya berjalan dengan mengandalkan diri sendiri, saat ini marilah kita memandanga Tuhan untuk mengandalkan-Nya. Bertobat bukan karena hal buruk yang kita terima, melainkan sebuah keyakinan dan kepasrahan diri kepada Tuhan untuk hidup dijalan-Nya. Lakukanlah semua itu dengan percaya kepada Injil. Mengandalkan Tuhan berarti mengandalkan Injil dalam semua hal.
Bertobatlah dan percayalah kepada Injil, karena Kerajaan Allah sudah dekat! Bukan nanti, besok, atau lusa, tapi sekaranglah waktunya, kiranya firman ini dapat mengetuk pintu hati kita untuk mau menjalankan perintah-Nya. Lakukanlah semuanya karena semua sudah terpampang di depan kita dan waktunya telah genap! Amin.
Doa Penutup
Terimakasih Tuhan untuk firman-Mu yang senantiasa mengingatkan kami untuk tetap hidup di jalan-Mu. Ajarlah kami untuk mau bertobat dan percaya kepada injil-Mu. Jadikanlah firman-Mu ini menjadi berkat bagi hidup kami, sehingga berkat itu dapat kami salurkan ketengah-tengah aktivitas dan pelayanan kami dalam satu hari ini. Terpujilah nama-Mu kini dan disepanjang segala masa. Amin.
CPdt. Porseales J Leandro Hutabarat, S.Th.
Renungan Lainnya
RENUNGAN MARTURIA: Kamis, 8 Januari 2026
Renungan Marturia: Rabu, 7 Januari 2026
Renungan Marturia: Senin, 5 Januari 2026
HKBP Channel
Video Terkait Lainnya
34:11
34:13
49:11
58:01
6:13
12:37
13:35
3:33
15:52
15:10
