HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN
PURBALINGGA (16/1) – HKBP Bukateja merealisasikan program pelayanan tahun 2026 dengan membangun Pendopo Mini khusus untuk area ibadah Sekolah Minggu. Pembangunan fasilitas ini bertujuan menyediakan ruang yang lebih representatif, sejuk, dan memadai agar anak-anak dapat mempelajari firman Tuhan dengan lebih fokus dan penuh sukacita. Langkah ini merupakan komitmen nyata gereja dalam memprioritaskan kenyamanan regenerasi jemaat. Dalam proses pembangunannya, gereja turut mengapresiasi dukungan jemaat, khususnya keluarga A. Gabe Sidauruk/br. Sinaga yang menyumbangkan material kayu. Inisiatif pembangunan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan fisik, tetapi juga mempererat semangat kebersamaan seluruh elemen jemaat dalam mendukung pertumbuhan iman anak-anak sebagai masa depan gereja.
SAMOSIR (18/1) – Kelompok Naposobulung HKBP (NHKBP) Sibuluan Humbang melaksanakan kunjungan gerejawi ke HKBP Palipi-Mogang, Distrik VII Samosir. Dalam ibadah Minggu tersebut, para pemuda mempersembahkan lagu pujian sebagai wujud kesaksian iman dan talenta mereka di hadapan jemaat. Kunjungan ini merupakan bagian dari program pertukaran pemuda untuk mempererat jejaring persekutuan antarjemaat HKBP. Usai ibadah, acara dilanjutkan dengan ramah tamah yang mempertemukan pemuda kedua gereja dengan jemaat setempat. Kehadiran NHKBP Sibuluan Humbang disambut hangat oleh parhalado dan jemaat HKBP Palipi. Melalui kegiatan ini, HKBP terus mendorong generasi muda untuk aktif membangun relasi oikumenis dan menjadi motor penggerak pelayanan yang dinamis di tingkat distrik hingga pusat.
CILEGON (18/1) – Perayaan syukuran tahun baru (Bonataon) HKBP Maranatha Cilegon berlangsung meriah dengan partisipasi aktif anak-anak Sekolah Minggu. Dalam acara tersebut, para generasi muda ini menunjukkan kecintaan mereka terhadap budaya Batak melalui penampilan manortor yang penuh semangat. Sebagai bentuk apresiasi dan kasih, jemaat yang hadir memberikan sumbangan (saweran) sebagai dukungan bagi pelayanan kategorial anak. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya HKBP Maranatha Cilegon dalam menanamkan nilai-nilai iman dan identitas kultural sejak dini. Melalui perayaan Bonataon, gereja berharap anak-anak sekolah minggu semakin bertumbuh dalam persekutuan yang akrab, sekaligus mempererat hubungan kasih antara orang tua, jemaat, dan anak-anak demi keberlanjutan pelayanan gereja di masa depan.
BEKASI (18/1) – Jemaat HKBP Kaliabang Perwira menggelar acara syukuran Tahun Baru (Pesta Taon Baru) dengan penuh sukacita dan keakraban. Salah satu momen berkesan dalam perayaan tersebut adalah saat perwakilan Seksi Anak Sekolah Minggu (ASM) menyampaikan ucapan syukur dan harapan (mandok hata) di depan seluruh jemaat dan pelayan gereja. Kegiatan ini menjadi sarana penting bagi HKBP dalam melestarikan nilai-nilai kultural dan teologis kepada generasi muda sejak dini. Meskipun dalam proses belajar berbahasa Batak, keberanian anak-anak ASM diapresiasi sebagai wujud regenerasi iman dan budaya. Melalui tradisi mandok hata ini, HKBP Kaliabang Perwira terus berkomitmen membina karakter jemaat agar tetap mencintai identitas gerejawi dan persaudaraan dalam Kristus.
PEMATANG SIANTAR (17/1) – Gereja HKBP Resort Sukadame menerima kunjungan Staf Khusus Menteri Agama RI, Gugun Gumilar, dalam rangka dialog penguatan moderasi beragama dan penolakan ujaran kebencian. Kehadiran perwakilan Kemenag ini disambut oleh Pendeta Sitanggang untuk membahas tantangan intoleransi di ruang digital serta peran strategis pemuka agama dalam menjaga kerukunan umat. Dalam pertemuan tersebut, HKBP menegaskan komitmennya untuk membimbing jemaat agar memiliki cara pandang yang moderat dan toleran. Kolaborasi lintas tokoh agama dinilai krusial untuk menangkal dampak negatif media sosial. Dialog ini memperkuat posisi HKBP sebagai mitra strategis pemerintah dalam menanamkan nilai kebangsaan dan menciptakan kedamaian di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia.
JAKARTA (18/1) – Kepala Departemen Koinonia HKBP, Pdt. Dr. Deonal Sinaga, mengikuti ibadah Minggu bersama jemaat HKBP Soeprapto yang dipimpin oleh Pendeta Resort, Pdt. Liston Butarbutar. Dalam ibadah yang penuh sukacita tersebut, pesan firman Tuhan berfokus pada nas 1 Korintus 1:4-9 dengan tema sentral “Kita Kaya di dalam Tuhan”. Melalui kehadirannya, Kadep Koinonia memberikan semangat bagi jemaat untuk menyadari kekayaan rohani dan kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah. Momentum ini mempererat persekutuan antara pimpinan pusat dan jemaat lokal, sekaligus meneguhkan komitmen jemaat HKBP Soeprapto untuk terus bertumbuh dalam iman dan kesetiaan melayani di tengah tantangan zaman.
LABUHAN BATU (18/1) – Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, memimpin ibadah Mameakhon Batu Ojahan (MBO) dan peresmian gedung gereja HKBP Merbau Resort Aek Pamingke. Gereja yang telah berusia 73 tahun ini berdiri di atas lahan hibah dari seorang warga Muslim, sebuah kesaksian indah tentang toleransi dan persaudaraan lintas iman. Acara dihadiri ribuan jemaat dari sepuluh pagaran serta unsur pimpinan daerah Labuhan Batu Raya. Dalam pesan penggembalaannya, Ephorus mengajak jemaat terus menjadi berkat bagi dunia dan merawat kebersamaan dengan masyarakat. Perayaan syukur ini meneguhkan komitmen HKBP untuk menghadirkan dampak positif, harapan, dan kemuliaan Tuhan di tengah kemajemukan bangsa.
TARUTUNG (18/1) – Ephorus HKBP menyoroti keberhasilan Norwegia dalam mengelola hutan berkelanjutan sebagai inspirasi nyata bagi Indonesia. Melalui sistem tebang pilih, kewajiban reboisasi, dan penggunaan riset berbasis data, Norwegia membuktikan bahwa perlindungan hutan primer adalah fondasi kesejahteraan jangka panjang, bukan penghambat pembangunan. Ephorus menekankan pentingnya komitmen politik dan transparansi untuk mengubah cita-cita pelestarian hutan menjadi kenyataan. Hutan harus dipandang sebagai penyerap karbon vital dalam menghadapi krisis iklim global. Pesan ini menjadi seruan bagi seluruh elemen bangsa, termasuk jemaat HKBP, untuk mendukung kebijakan ekologis yang mengutamakan keadilan antargenerasi dan kelestarian bumi di atas kepentingan ekonomi jangka pendek.
JAKARTA (17/1) – Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan tim produksi film “Antara Mama, Cinta dan Surga – Bahasa Cinta Nommensen” di Kantor HKBP Distrik VIII DKI Jakarta. Hadir juga di dalam acara bersama Kepala Departemen Marturia dan Praeses HKBP Distrik VIII DKI Jakarta. Film hasil kolaborasi HKBP dengan PT Pariban Indo Media ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 19 Februari 2026. Ephorus menegaskan bahwa karya ini merupakan tontonan edukatif yang mengangkat nilai kasih, pengorbanan, dan iman. Menariknya, sebagian hasil penjualan tiket akan dialokasikan untuk mendukung pelayanan gereja. Jemaat diajak menonton sebagai bentuk partisipasi dalam kesaksian kasih sekaligus mendukung karya seni yang sarat inspirasi bagi keluarga Kristen.
Berita Terkini HKBP



Renungan Harian HKBP
Renungan Terkini
Renungan Harian Senin, 19 Januari 2026
“Allahmulah Allahku”
Salam sejahtera bagi kita semuanya….
Kita Berdoa:
Bapa di surga! Kami bersyukur atas kasihMu yang menyertai kehidupan kami hingga saat ini. Sebentar kami akan mendengarkan FirmanMu; Tuntunlah kami untuk memahami dan Melakukan Firman-Mu dalam kehidupan kami. Hanya di dalam Nama Yesus Kristus kami berdoa, Amin!
Bapak, Ibu, saudara sekalian yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus…
Firman Tuhan hari ini tertulis di kitab Rut 1:16 ”Tetapi kata Rut: Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam; bangsamulah bangsaku, dan Allahmulah Allahku.”
Jemaat yang dikasihi Kristus
Kitab Rut sangat menarik dan disukai oleh kaum ibu pada umumnya. Kenapa? Karena kitab Rut mengisahkan hubungan kekeluargaan yang luar biasa antara seorang menantu terhadap mertuanya perempuan, yaitu Rut dan Naomi. Hubungan kekeluargaan ini mengajarkan tentang pemulihan hubungan, komitmen dan kesetiaan iman.
Naomi adalah seorang Yahudi dari suku Yehuda, sedangkan Rut adalah orang Moab, yang secara sosial politik kedua suku ini sering terlibat konflik dan permusuhan, padahal kedua suku ini masih memiliki hubungan keluarga, yaitu dari Lot dan Abraham. Akibat dari permusuhan itu menyebabkan adanya larangan kawin campur di antara kedua suku. Namun, anak-anak Naomi justru menikah dengan perempuan Moab, Orpa dan Rut (Rut 1:4).
Dari sini kita lihat, sejak awal Kitab Rut mengajarkan adanya upaya pemulihan hubungan kekeluargaan. Akan tetapi, sangat disayangkan karena kedua anak Naomi pun mati, yang menyebabkan Naomi harus berpisah dengan kedua menantunya. Naomi akan kembali ke Betlehem dan kedua menantunya akan kembali kepada orangtuanya masing-masing seperti adat istiadat yang berlaku.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya? Di sinilah poin penting dari Firman Tuhan hari ini. Memang, si Orpa dengan berat hati, dia berpisah dengan Naomi, sedangkan Rut membuat keputusan spektakuler: dia setia kepada Naomi, tapi bukan sekedar setia pada ibu mertua, lebih dari itu dia setia pada Allah Israel. Dengan tegas dia berkata: “ke mana engkau pergi, ke situ juga aku pergi; di mana engkau bermalam di situ juga aku bermalam, bangsamulah bangsaku, Allahmulah Allahku”. Perkataan Rut ini adalah komitmen iman yang luar biasa, melampaui batas-batas budaya, sosial, dan nilai-nilai politik yang sedang terjadi pada saat itu.
Jemaat yang dikasihi Kristus….
Keputusan Rut ini pantas untuk kita renungkan dan teladani di masa kini. Bukan sekadar soal pindah adat, budaya, sosial dan agama; sebab secara materi tidak ada keuntungan yang didapatkan oleh Rut, bukankah lebih baik baginya kembali pada keluarganya dan menikah lagi dengan laki-laki lain orang Moab demi masa depannya? Namun, dia tulus untuk mengabdi pada Naomi dan Allah Naomi. Rut telah melakukan pemulihan hubungan kekeluargaan, perdamaian dan kesetiaan iman, sehingga dia memperoleh lebih dari segala materi. Pada akhirnya, Rut menikah dengan Boas, dan dari merekalah keturunan Daud sampai kepada Yesus Kristus.
Tanpa menepikan faktor Naomi, tentulah Allah yang berperan dalam hidup Rut untuk mengambil keputusan dalam hidupnya. Dan Allah juga yang berperan dalam hidup Naomi untuk turut membawa Rut ke Betlehem. Artinya: Mereka dipakai Tuhan untuk mewujudkan rancangan pemulihan, perdamaian dan keselamatan-Nya.
Dari kisah ini, kita patut merenungan bahwa Tuhan mempunyai rancangan-Nya dalam hidup setiap orang percaya dan setia imannya kepada Tuhan. Sebab itu, nyatakanlah komitmen imanmu di hadapan Tuhan dan setialah pada-Nya. AMIN
Mari kita Berdoa.
Bapa disorga… Trimakasih untuk firman-Mu yang menguatkan hati kami dan meneguhkan iman kami. Kiranya firman-Mu hari ini dapat menginpirasi dan memotivasi iman kami agar tetap setia kepada-Mu. Ajarlah kami untuk tetap percaya, setia dan berharap hanya kepada-Mu saja, agar kami dimampukan dan dikuatkan untuk menjalani kehidupan ini. Karena itu, kami serahkan hidup kami hanya kepada Tuhan. Dengarlah Doa kami ini Hanya didalam Nama Tuhan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin
Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus. Kasih setia dari Allah Bapa dan Persekutuan Roh Kudus, kiranya menyertai kita sekalian hari ini dan selamanya. Amin.
Bvr. Sulastri Sitompul – Kantor Biro Zending HKBP
Evangelium Minggu, 18 Januari 2026
Doa Pembuka.. Damai sejahtera dari Allah Bapa, yang melampaui akal dan pengertianmu, itulah kiranya yang memelihara hati dan pikiranmu. Di dalam Yesus Kristus Tuhan. Amin…
Bapak Ibu , sauadara/i sekalian yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus Firman Tuhan di minggu tanggal 18 Januari 2026, di minggu II Setelah Ephipanias diambil dari 1 Korintus 1 : 4-9. Saya akan bacakan, Demikian Firman Tuhan,
- Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus.
- 5. Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan,
- 6. sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu.
- 7. Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus.
- 8. Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus.
- 9. Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih Dalam Nama Tuhan, Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa kurang, kurang sabar, kurang bijak, atau bahkan kurang bersyukur. Kita mudah fokus pada kekurangan diri sendiri atau situasi di sekitar kita, sampai kadang lupa bahwa setiap hari kita menerima kasih dan anugerah Tuhan yang luar biasa. Dalam surat Paulus kepada jemaat Korintus, khususnya 1 Korintus 1:4-9, kita diingatkan untuk melihat diri kita melalui mata Allah—yakni sebagai orang yang diberkati, dipanggil, dan setia dijaga oleh-Nya. Ayat-ayat ini membuka mata kita bahwa iman bukan hanya soal usaha manusia, tetapi tentang kesetiaan dan anugerah Allah yang menopang hidup kita setiap saat.
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih di Dalam Nama Tuhan, Paulus menulis: “Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allah karena kamu, karena dalam Kristus Yesus kamu telah diberkati dengan segala macam kasih karunia, yang meneguhkan kamu.” (ay. 4-5). Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa setiap berkat dan kemampuan yang kita miliki berasal dari Allah. Sering kali kita menganggap pencapaian atau talenta kita adalah hasil usaha sendiri, padahal semua itu adalah bagian dari kasih karunia Tuhan. Paulus menekankan pentingnya bersyukur, bukan hanya karena berkat besar, tetapi juga karena kasih karunia yang meneguhkan kita di setiap langkah hidup. Ayat 6-7 menegaskan bahwa iman kita bukan hanya sekadar formalitas atau ritual, tetapi iman yang hidup, yang membentuk karakter dan kesaksian kita. Paulus menulis bahwa jemaat Korintus menerima penguatan untuk tetap teguh dan siap menantikan hari kedatangan Tuhan. Refleksi ini mengingatkan kita: iman yang sejati tidak berhenti pada pengakuan lisan, tetapi berbuah dalam kesetiaan dan ketekunan di tengah tantangan hidup. Bahkan ketika kita menghadapi kesulitan, kasih karunia Tuhan cukup untuk meneguhkan dan memampukan kita untuk tetap setia.
Ayat 8-9 adalah pengingat yang luar biasa: “Allah setia, yang memanggil kamu dalam persekutuan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus, dan Dia juga akan meneguhkan kamu sampai pada akhir, supaya kamu tetap tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus.” Allah tidak hanya memberi kita awal yang baik, tetapi menjamin bahwa Dia akan menyertai kita sampai akhir. Ini memberikan ketenangan dan keyakinan dalam hidup sehari-hari. Kita tidak berjalan sendiri; kita dipanggil, diteguhkan, dan dijaga oleh Allah yang setia.
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih di Dalam Nama Tuhan, Renungan dari 1 Korintus 1:4-9 mengajak kita untuk menumbuhkan tiga sikap: bersyukur atas kasih karunia Tuhan, hidup teguh dalam iman, dan percaya penuh bahwa Allah setia menuntun kita sampai akhir. Hari ini, mari kita refleksikan: apakah kita sudah menyadari berkat Tuhan dalam hidup kita? Apakah iman kita tercermin dalam tindakan dan kesetiaan sehari-hari? Dan apakah kita percaya sepenuhnya bahwa Allah akan meneguhkan kita di setiap langkah? Ketika kita hidup dengan kesadaran ini, setiap hari menjadi kesempatan untuk bersyukur, bertumbuh, dan menjadi saksi kasih Tuhan. Kita tidak hanya menjadi penerima berkat, tetapi juga saluran berkat bagi orang lain. Kesetiaan Allah memberi kita damai dan keberanian untuk menjalani hidup ini dengan iman yang teguh dan hati yang penuh syukur.
Doa Penutup : Terimakasih Ya Tuhan Allah, untuk FirmanMu yang telah kami dengar. Ajari kami untuk selalu bersyukur memiliki Engkau, ajarkan kami bahwa betapa bahagianya kami karena Engkau begitu mengasihi kami. Dengan bimbingan rohMu, kami akan melakukan FirmanMu untuk kemuliaan namaMu. Kami serahkan hidup kami hari ini, esok dan selamanya hanya kedalam tangan pengasihanmu. Di dalam Yesus Kristus Kami Berdoa. Amin.
Pdt. Panuturi Sitompul
Renungan Epistel Minggu, 18 Januari 2026
Doa Pembuka.. Damai sejahtera dari Allah Bapa, yang melampaui akal dan pengertianmu, itulah kiranya yang memelihara hati dan pikiranmu. Di dalam Yesus Kristus Tuhan. Amin…
Bapak Ibu , sauadara/i sekalian yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus Firman Tuhan di Epistel Minggu tanggal 18 Januari 2026, di minggu II Stelah Ephipanias diambil dari Mazmur 40 : 5-11. Saya akan bacakan, Demikian Firman Tuhan,
- 5. (40-6) Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya TUHAN, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau!
Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung.
- 6. (40-7) Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian,
tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut.
- 7. (40-8) Lalu aku berkata: “Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku;
- 8. (40-9) aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.”
- 9. (40-10) Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN.
- 10. (40-11) Keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan-Mu dan keselamatan dari pada-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan
kepada jemaah yang besar.
11 (40-12) Engkau, TUHAN, janganlah menahan rahmat-Mu dari padaku,
kasih-Mu dan kebenaran-Mu kiranya menjaga aku selalu!
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih Dalam Nama Tuhan, Sering kali dalam hidup, kita merasa bahwa doa kita seolah tidak didengar, atau perjuangan yang kita lalui terasa sia-sia. Kita melihat masalah yang menumpuk dan tantangan yang tak kunjung selesai, hingga sulit bagi kita untuk melihat tangan Tuhan di balik semua itu. Mazmur 40:5-11 hadir sebagai pengingat bahwa Allah bekerja dengan cara yang sering tak terlihat, namun selalu nyata dan penuh kasih.
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih di Dalam Nama Tuhan, Pemazmur menulis dengan hati yang terbuka: “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, dan betapa dalam perhitungan-Mu terhadap kami; tak seorang pun dapat menyatakannya, tak seorang pun dapat menghitungnya.” Dalam kehidupan sehari-hari, kita cenderung fokus pada apa yang salah, tetapi ayat ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan menyadari semua kebaikan Tuhan yang sering tersembunyi di balik kesibukan dan rutinitas kita. Pernahkah kita menghitung berapa kali Tuhan menyelamatkan kita dari masalah, memberi kita kesempatan baru, atau menuntun kita melalui jalan yang tampak buntu? Banyak dari hal itu tak kita sadari, tetapi tetap nyata.
Lebih dari sekadar mengakui perbuatan Tuhan, pemazmur menegaskan pentingnya ketaatan dan kesediaan untuk hidup sesuai kehendak Allah: “Aku datang, ya Allah, untuk melakukan kehendak-Mu; Firman-Mu ada di dalam hatiku.” Hidup dalam ketaatan berarti kita tidak hanya mendekat kepada Tuhan ketika butuh pertolongan, tetapi juga menempatkan Firman-Nya sebagai pedoman hati dan tindakan kita. Refleksi ini menantang kita untuk menanyakan diri: apakah kita benar-benar menyerahkan hidup kita, atau hanya mengikuti Tuhan secara formal? Ketaatan sejati lahir dari hati yang tulus dan kepercayaan penuh bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita.
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih di Dalam Nama Tuhan, Mazmur ini juga mengingatkan kita tentang peran kita sebagai saksi kasih Tuhan: “Aku tidak menyembunyikan kebaikan-Mu; aku memberitakan kesetiaan-Mu dan keselamatan-Mu.” Refleksi ini mengajak kita untuk menelusuri setiap aspek kehidupan: pekerjaan, keluarga, teman, bahkan interaksi sehari-hari di masyarakat. Apakah kita menjadi cermin dari kasih dan kesetiaan Tuhan? Setiap tindakan baik, perkataan yang menguatkan, dan kehadiran yang menenangkan adalah cara kita membagikan kesaksian. Hidup yang dipenuhi syukur dan kasih bukan hanya menguatkan iman kita sendiri, tetapi juga menolong orang lain menemukan Allah yang setia. Mazmur 40:5-11 mengajak kita untuk merenung: melihat lebih dari masalah, menghargai setiap pertolongan Tuhan, hidup dalam ketaatan, dan menjadi saksi bagi orang lain. Ketika kita mulai melihat hidup melalui lensa syukur dan kesetiaan, kita akan menyadari bahwa setiap langkah, setiap perjuangan, dan setiap berkat adalah bagian dari rencana Tuhan yang indah. Tuhan tidak hanya hadir di momen besar, tetapi juga di hal-hal kecil yang membentuk hari-hari kita.
Doa Penutup : Terimakasih Ya Tuhan Allah, untuk FirmanMu yang telah kami dengar. Ajari kami untuk selalu bersyukur memiliki Engkau, ajarkan kami bahwa betapa bahagianya kami karena Engkau begitu mengasihi kami. Dengan bimbingan rohMu, kami akan melakukan FirmanMu untuk kemuliaan namaMu. Kami serahkan hidup kami hari ini, esok dan selamanya hanya kedalam tangan pengasihanmu. Di dalam Yesus Kristus Kami Berdoa. Amin.
Pdt. Panuturi Sitompul
Renungan 17 Januari 2026 1 Korintus 1:8
Nats Firman:
“Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus’
Bapak, ibu saudara dan saudari yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus, mungkin kita pernah melihat proses terjadinya transaksi jual/beli yang membutuhkan jaminan atau sering menggunakan uang panjar. Hal ini bertujuan agar barang atau sesuatu yang ingin dibeli tersebut tidak bisa diambil lagi oleh orang lain lagi. Sama halnya dengan ayat firman Tuhan yang menyapa kita pada hari ini adalah suatu jaminan bagi kita orang percaya bahwa Allah akan meneguhkan setiap orang sampai kepada kesudahannya, oleh sebab itu apabila kita masih kerap memiliki keraguan tentang keselamatan kita kelak, apakah kita akan diterima di sisi Tuhan jika kita meninggal. Ayat ini menjadi jaminan akan keselamatan kita, pada nyatanya juga kita telah ditebus lunas dari kematian dosa oleh darah Yesus di Kayu Salib.
Hidup orang percaya tidak pernah dijanjikan bebas dari masalah. Sama halnya juga yang terjadi sewaktu Paulus menuliskan surat ini kepada Jemaat di Korintus, ayat ini merupakan surat ucapan syukur Paulus karena jemaat di korintus sudah sama dengan mereka yang percaya kepada Kristus. Jemaat Korintus sendiri menghadapi banyak persoalan: perpecahan, dosa, kesombongan rohani, dan kebingungan iman. Namun menariknya, Paulus tidak memulai dengan teguran keras, melainkan dengan pengharapan—bahwa Allah sendirilah yang akan meneguhkan mereka sampai akhir.
Kata “meneguhkan” menunjukkan tindakan Allah yang terus-menerus, bukan sesaat. Ini menegaskan bahwa kekuatan iman kita bukan bersumber dari kemampuan manusia, melainkan dari kesetiaan Allah. Kita sering merasa lemah, jatuh, dan tidak layak, tetapi Tuhan tidak pernah berhenti bekerja dalam hidup kita. Janji ini juga mengarahkan pandangan kita kepada hari Tuhan Yesus Kristus. Hidup orang percaya bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang tujuan akhir: berdiri di hadapan Tuhan tanpa bercacat, bukan karena kesempurnaan kita, melainkan karena anugerah-Nya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam menjalani hidup, kita banyak tindakan yang bisa mempengaruhi iman kita, saat kawan kita melakukan dosa-dosa namun hidupnya tenang-tenang saja. Terkadang kita memiliki rasa ingin untuk melakukan hal yang sama juga dengan teman kita tersebut, namun melalui firman hari ini kita diingatkan bahwa saat iman kita mulai goyah, Tuhan tetap setia dengan setiap janji-Nya kepada kita.
Mungkin masih banyak cita-cita atau harapan yang belum bisa kita wujudkan dalam kehidupan ini di tahun 2025 yang lalu. Namun satu hal yang perlu kita ketahui bahwa jika kita merasa gagal dalam hidup kita ingatlah bahwa Tuhan belum selesai dengan kita, disaat kita merasa bahwa masa depan terasa gelap, ingatlah bawah Tuhan sudah menjanjikan kesudahannya. Firman Tuhan tidak pernah gagal dan Tuhan akan meneguhkan kita sampai pada kesudahannya, sehingga kita tidak bercacat pada hari kedatangan Tuhan Yesus. Amin
CPdt. Josua Nababan
Renungan Harian Marturia HKBP Jumat, 16 Januari 2026
Doa pembuka
Ya Tuhan Allah yang Mahakuasa, Mahapengasih, Bapa kami di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kami mengucap syukur dengan segenap hati kami, karena Engkau memelihara hidup kami sampai saat ini. BerkatMu menenteramkan hidup kami untuk merenung sejenak, dan mendengarkan suara-Mu yang penuh kasih. Kiranya melalui renungan ini, Engkau berbicara kepada kami dan membuka mata hati kami untuk melihat kebenaran-Mu. Biarlah setiap kata yang terdengar mengarahkan kami lebih dekat kepada-Mu, dan membawa perubahan dalam hidup kami yang memuliakan nama-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kami, kami berdoa. Amin.
Renungan
HAKIM-HAKIM 6 : 12
“Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.”
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Dalam hidup ini, sering kali nilai diri kita ditentukan oleh apa yang kita miliki, apa yang kita capai, atau bagaimana orang lain memandang kita. Dunia mengajarkan bahwa yang kuat adalah yang terlihat percaya diri, yang berhasil, yang tidak ragu. Sementara yang lemah, yang takut, yang gagal, yang merasa kecil, sering dianggap tidak layak diperhitungkan. Namun realitas hidup justru berkata sebaliknya. Banyak orang hari ini tampak kuat di luar, tetapi rapuh di dalam. Banyak yang terlihat sibuk, produktif, dan berani, tetapi diam-diam hidup dengan ketakutan: takut tidak cukup, takut gagal, takut ditinggalkan, takut masa depan. Bahkan orang-orang beriman pun tidak luput dari pergumulan ini.
Di tengah realitas seperti itulah firman Tuhan hari ini berbicara.
Ketika bangsa Israel hidup dalam penindasan Midian, mereka miskin, tertekan, dan kehilangan harapan. Gideon, yang kelak menjadi pahlawan Israel, pertama kali muncul dalam kisah ini sebagai orang yang takut, bersembunyi sambil mengirik gandum di tempat pemerasan anggur.” Dan tepat di saat itulah Malaikat TUHAN datang dan berkata kepadanya: “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.”
Kalimat ini terdengar janggal. Gideon tidak sedang berani. Ia tidak sedang memimpin. Ia tidak sedang berjuang. Tetapi Tuhan menyapanya bukan berdasarkan keadaan Gideon, melainkan berdasarkan panggilan dan penyertaan-Nya. Di sinilah pesan teologis yang dalam itu muncul: Allah tidak menamai kita berdasarkan ketakutan kita, tetapi berdasarkan rencana-Nya. Gideon melihat dirinya kecil dan tidak layak. Tetapi Tuhan melihat siapa yang akan ia jadikan. Sebab keberanian Gideon bukan berasal dari dirinya, melainkan dari satu kebenaran ini: “TUHAN menyertai engkau.” Penyertaan Allah selalu mendahului perubahan hidup.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, bukankah ini juga realita kita hari ini? Kita hidup di tengah tekanan ekonomi, tuntutan pekerjaan, kecemasan sosial, dan ketidakpastian masa depan. Tidak jarang iman kita melemah, doa tidak lagi kita rasakan menguatkan, dan hati kita diliputi perasaan seolah-olah Tuhan jauh dari perjalanan hidup kita.
Firman hari ini mengingatkan: Tuhan tidak menunggu kita kuat untuk menyertai kita.
Justru karena Ia menyertai kitalah, kita dimampukan untuk berdiri. Dalam Kristus, janji ini digenapi sepenuhnya. Ia disebut Imanuel—Allah beserta kita. Artinya, penyertaan Tuhan bukan lagi sekadar janji, tetapi kenyataan yang hidup dalam setiap pergumulan kita. Maka firman ini mengundang kita untuk belajar hidup dari identitas yang Tuhan nyatakan, bukan dari ketakutan yang kita rasakan. Dunia mungkin melihat kita biasa, gagal, atau kecil. Tetapi Tuhan berkata: “Aku menyertaimu.” Dan itu sudah cukup untuk melangkah. Kiranya firman ini menggugah kita untuk berani hidup setia, bukan karena kita merasa mampu, tetapi karena kita percaya: Tuhan yang memanggil, Tuhan juga yang menyertai. Amin.
Doa Penutup
Ya Tuhan Allah kami, kami bersyukur atas firman-Mu yang meneguhkan hati kami. Di tengah ketakutan dan kelemahan kami, Engkau tetap menyertai dan memanggil kami menurut rencana-Mu. Tolonglah kami agar tidak hidup menurut rasa takut, melainkan berani melangkah dalam iman, karena kami percaya Engkaulah yang menyertai setiap langkah hidup kami. Kuatkan kami untuk setia menjalani panggilan-Mu di tengah realitas hidup yang kami hadapi, hingga hidup kami menjadi kesaksian bagi kemuliaan nama-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa dan menyerahkan hidup kami. Amin.
CPdt. Johannes Sibarani
RENUNGAN HARIAN MARTURIA: Kamis, 15 Januari 2026
Doa Pembuka
Tuhan Allah Bapa Kami yang penuh kasih, kami bersyukur atas kasih setia dan pemeliharaan-Mu yang tidak pernah berkesudahan dalam hidup kami hingga saat ini. Kami datang kehadapan-Mu dengan hati yang rindu akan Firman-Mu. Curahkanlah Roh Kudus-Mu untuk membuka hati dan pikiran kami. Kiranya kami tidak hanya menjadi pembaca atau pendengar saja, tetapi sungguh-sungguh menjadi pelaku Firman-Mu sesuai dengan kehendak dan kebenaran-Mu. Tuntunlah kami ya Tuhan, agar Firman-Mu menjadi kekuatan, penghiburan dan pedoman dalam langkah hidup kami. Terimalah doa kami ini ya Tuhan, dan biarlah segala yang kami lakukan hanya untuk kemuliaan nama-Mu. Amin.
Renungan
Roma 3:23 “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.
Saudara saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus, pernahkah kita berpikir sejenak dalam kehidupan kita, mengapa Tuhan sangat mengasihi kita ? apakah karena perbuatan kita? Apakah karena pekerjaan kita? Atau karena apa yang kita lakukan kepada Allah? Sering kali kita merasa bahwa kasih Tuhan harus “dibayar” dengan kebaikan, kesalehan atau keberhasilan. Namun firman Tuhan ini membawa kita pada satu kebenaran tentang diri manusia.
Surat Roma ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma yang hidup dalam keberagaman latar belakang, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi. Dalam kehidupan beriman mereka, muncul kecenderungan untuk merasa lebih benar dari yang lain: ada yang mengandalkan hukum Taurat, ada pula yang merasa cukup dengan moral dan kebijaksanaan manusia. Melalui surat ini Paulus menegaskan kebenaran yaitu: keselamatan tidak pernah lahir dari usaha manusia, melainkan semata-mata anugerah dari Allah.
Rasul Paulus berkata dalam Roma 3:23 “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. Firman ini menegaskan bahwa tidak ada satupun manusia yang tidak berbuat dosa, baik dari status sosial, pekerjaan, karakter dan yang lainnya. Dosa bukan hanya soal perbuatan yang terlihat besar di mata manusia, tetapi juga tentang hati, pikiran, dan sikap hidup yang sering kali jauh dari kehendak Allah. Tanpa kita sadari, ego, kesombongan, iri hati, dan ketidaktaatan menjadi bagian dari keseharian kita. Inilah realitas manusia: kita telah kehilangan kemuliaan Allah. Meskipun kita berdosa namun kenyataannya bahwa kasih Alah tidak berhenti karena dosa manusia. Justru ditengah keberdosaan itulah kasih Tuhan dinyatakan. Tuhan mengasihi kita bukan karena kita layak, bukan karena kita setia dan bukan karena kita telah melakukan banyak hal baik. Tuhan mengasihi kita karena kita berharga dimata-Nya. Kasih Allah lahir dari siapa Dia, bukan dari siapa kita.
Allah tidak membiarkan manusia tinggal dalam kondisi tersebut. Dalam Roma 3:25, Paulus menegaskan bahwa Allah tidak membiarkan manusia tinggal dalam keberdosaan dan keterpisahan. Allah sendirilah yang memulihkan hubungan kepada manusia dengan menetapkan Yesus Kristus sebagai jalan keselamatan melalui darah-Nya. Keselamatan bukan hasil usaha manusia, melainkan anugerah Allah yang diterima melalui iman. Kasih Tuhan dinyatakan bukan karena kita layak, tetapi karena Allah setia mengasihi kita. Darah Kristus menjadi tanda bahwa dosa tidak lagi menjadi akhir dari cerita hidup manusia.
Kita menyadari bahwa kita adalah manusia berdosa,tetapi kita juga percaya bahwa kita adalah manusia yang dikasihi dan ditebus. Dengan demikian marilah memandang diri dengan penuh pengharapan, tumbuhkan rasa kerendahan hati, rasa syukur dan kerinduan untuk hidup dalam ketaatan, bukan karena takut dihukum, melainkan karena telah lebih dahulu dikasihi. Amin
Doa Penutup
Tuhan yang setia dan penuh anugerah, kami mengucap syukur atas Firman-Mu yang telah kami renungkan. Kami diingatkan bahwa kami adalah manusia berdosa yang hidup bukan oleh kebaikan kami sendiri, melainkan oleh kasih dan pengorbanan Kristus. Tuhan tolong kami, agar kami dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ajari kami hidup dengan hati yang rendah, penuh bersyukur dan setia berjalan didalam kehendak-Mu. Kiranya anugerah-Mu senantiasa menyertai langkah hidup kami, menguatkan iman kami, dan menuntun kami untuk hidup sebagai terang di dunia ini. Amin
CBiv. Septi Napitupulu
