HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN
Berita Terkini HKBP



Renungan Harian HKBP
Renungan Terkini
RENUNGAN APLIKASI MARTURIA (Evangelium Minggu Setelah Tahun Baru tgl.04 Januari 2026)
DARI KEPENUHAN-NYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA
(Ev. Yohanes 1 : 10 – 17)
Doa Pembuka:
Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal dan pikiran manusia, itulah kiranya memberkati hati dan pikiranmu, dalam Kristus Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita yang hidup. Amin!
[10] Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.
[11] Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.
[12] Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
[13] orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.
[14] Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
[15] Yohanes memberi kesaksian tentang Dia, katanya: “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.”
[16] Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;
[17] sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,…!
Kalau kita memperhatikan judul di Alkitab, adalah satu bagian mulai dari ayat 1 – 18, dari Yohanes pasal 1 ini, yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) diberi judul: “Firman Yang Telah Menjadi Manusia.” Siapakah yang dimaksud dengan judul tersebut? Tidak lain adalah Yesus Kristus. Rentetan peristiwa dalam kisah kelahiran Yesus Kristus sebagaimana dicatat dalam kitab Injil Matius, Markus dan Lukas; tidak demikian yang dituliskan dalam kitab Injil Yohanes. Kalau dalam kitab Injil Matius, Markus dan Lukas, dituliskan kisah atau peristiwa kelahiran Yesus Kristus; ada Yusuf dan Maria, kandang domba, kota kecil Betlehem sebagai tempat kelahiran Yesus, orang majus dari Timur, dan lain-lain. Tidak demikian di kitab Injil Yohanes. Kitab Injil Yohanes justru mencatat siapa Yesus yang sebenarnya. Hal itu dapat kita temukan di Yohanes pasal 1 ini. Dalam arti, maksud kedatangan Yesus ke dalam dunia ini. Dalam kitab Injil Yohanes ada beberapa sebutan kepada Yesus Kristus: Ia adalah terang (1:4); Yesus sebagai Air Kehidupan (4:10); Yesus sebagai Roti Kehidupan (6:33); Yesus sebagai Gembala Yang Baik (pasal 10).
Kalau kita baca Yohanes pasal 1 ini, kita dapat menemukan maksud dan tujuan Yesus datang ke dalam dunia ini. Yesus disebut Terang (ayat 4 dan 5) . Yesus datang untuk menerangi dunia ini. Terang berfungsi dalam situasi dan kondisi gelap. Di malam hari ketika gelap, kita membutuhkan terang, sehingga menyalakan lampu atau alat penerang. Bila aliran listrik padam, kita pasti akan mencari alat penerang, apakah itu senter, lilin, obor. Bisa juga mengambil handphone dan menyalakan senter yang terdapat di dalam handphone. Dunia ini telah diliputi kegelapan karena dosa dan kejahatan semakin merajalela di tengah-tengah dunia ini. Dalam hal ini kita membutuhkan Yesus Kristus yang akan menerangi hati umat manusia. Itulah salah satu maksud dan tujuan kedatangan Yesus Kristus.
Di ayat 11 dikatakan, Yesus Kristus datang atau hadir di tengah-tengah dunia ini, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Yang dimaksud di sini ialah, orang-orang yang hidupnya terlepas dari Yesus Kristus dan yang hidupnya tidak sesuai dengan kehendak dan ajaran Yesus. Itulah yang tidak mengenal Yesus. Ada juga banyak orang yang menolak kehadiran Yesus Kristus. Hal itu terjadi sejak kelahiran Yesus di tengah-tengah dunia ini, hingga saat ini. Berbagai cara dilakukan oleh banyak orang untuk menolak Yesus Kristus, dengan cara menolak kehadiran orang yang percaya kepada Yesus Kristus, dengan melakukan penolakan, pengejaran, pengusiran, bahkan penganiayaan dan pembunuhan. Termasuk menolak kehadiran gereja di dunia ini; itu juga adalah bentuk penolakan kepada Yesus Kristus.
Tetapi banyak orang telah percaya kepada Yesus Kristus, yang telah menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya. Orang-orang yang telah percaya inilah yang diberi kuasa menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak di dalam Kerajaan Allah, itu berarti menjadi pewaris di dalam Kerajaan Allah, yaitu mewarisi kehidupan yang kekal. Itulah anugerah keselamatan bagi orang beriman. Orang yang menerima Yesus, hatinya akan diterangi dan ia akan berjalan sesuai dengan kehendak Yesus Kristus.
Kalau dalam ayat 17 dikatakan: “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.” Kita tahu dalam Perjanjian Lama, Tuhan memberikan 10 Hukum Taurat kepada bangsa Israel dengan perantaraan Musa, yang akan menjadi aturan dan pedoman hidup bagi mereka. Tetapi kasih karunia atau anugerah hanya diperoleh melalui iman kepada Yesus Kristus. Kasih karunia terbesar bagi orang beriman adalah keselamatan. Kematian Yesus Kristus di kayu salib adalah untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa dan maut. Kasih karunia Yesus Kristus harus disambut dengan iman. Iman kepada Yesus Kristus itu bukan iman yang pasif atau statis, tetapi yang harus dikerjakan, iman yang harus berbuat. Yakobus mengatakan: “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (2:17). Tunjukkan buah imanmu dalam perbuatan dan tindakan yang baik dalam hidup sehari-hari. Saudara-saudara,…terimalah Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, terimalah Dia sebagai terang yang menerangi hatimu, menerangi dan menuntun perjalanan hidupmu. Amin!
Doa Penutup:
Terimakasih Tuhan untuk berkat-Mu hari ini, yang boleh kami terima dan rasakan. Terimakasih untuk kesehatan, nafas kehidupan, yang senantiasa Tuhan anugerahkan dalam hidup kami. Kami bersyukur untuk Firman-Mu yang telah kami dengarkan. Kiranya Tuhan memeteraikannya di dalam hati kami, dan kiranya Tuhan memberikan kepada kami kekuatan, kemampuan dan ketekunan untuk melakukan firman dan kehendak-Mu dalam kehidupan kami sehari-hari. Dalam nama AnakMu Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup, kami berdoa dan mengucap syukur. Amin!
Pdt. Manaris R. E. Simatupang, M.Th – Bendahara Umum HKBP
RENUNGAN APLIKASI MARTURIA (Epistel Minggu Setelah Tahun Baru tgl.04 Januari 2026)
DARI KEPENUHAN-NYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA
(Ep. Mazmur 147 : 12 – 20)
[12] Megahkanlah Tuhan, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion!
[13] Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu.
[14] Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik.
[15] Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari.
[16] Ia menurunkan salju seperti bulu domba dan menghamburkan embun beku seperti abu.
[17] Ia melemparkan air batu seperti pecahan-pecahan. Siapah yang tahan berdiri menghadapi dingin-Nya?
[18] Ia menyampaikan firman-Nya, lalu mencairkan semuanya, Ia meniupkan angin-Nya, maka air mengalir.
[19] Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan-ketetapan-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada Israel.
[20] Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal. Haleluya!
Tuhan itu Mahabesar! Kebesaran Tuhan dapat kita lihat dari banyak hal. Salah satunya melalui dunia dan segala isinya. Dunia ini dan segala ciptaan di dalamnya ada, karena Tuhan yang menciptakan. Tidak ada oknum yang lain, selain Allah yang dapat menciptakannya. Terutama manusia, sebagai mahkota ciptaan Tuhan, yang berbeda dari ciptaan yang lain. Karena manusia diciptakan memiliki akal, yang tidak dimiliki ciptaan yang lain. Anggota-anggota tubuh manusia juga ditempatkan sedemikian rupa, sehingga begitu baik kelihatannya dan juga dapat berfungsi dengan baik. Mengagumi kebesaran Tuhan dapat kita lakukan dengan mengunjungi tempat-tempat wisata alam, seperti: daerah tepi pantai, danau, pegunungan, dan lain-lain. Kita sering takjub melihat alam semesta ciptaan Tuhan. Banyak turis dari dalam dan luar negeri yang datang ke Bali, bukan hanya untuk menikmati suguhan pagelaran budaya, tetapi juga untuk menikmati pemandangan alamnya yang indah dan eksotik. Kawasan danau Toba juga tidak kalah indahnya dari Pulau Bali.
Kebesaran Tuhan juga dinyatakan atas umat manusia, terutama atas diri umat Israel sebagai umat pilihanNya, sebagaimana dinyatakan dalam Perjanjian Lama. Ketika bangsa itu diperbudak di Mesir dalam kurun waktu 400 tahun, Tuhan membebaskan umatNya. Dan dalam perjalanan di padang gurun menuju tanah perjanjian, Tuhan pun menunjukkan kuasaNya dengan berbagai cara. Tuhan menyediakan makanan dan minuman; Tuhan mendatangkan tiang awan dan tiang api untuk menuntun perjalanan mereka sekaligus melindungi tubuh mereka dari cuaca ekstrim di padang gurun. Tuhan melalui Musa membelah laut Merah agar bangsa Israel dapat meloloskan diri dari kejaran tentara Firaun, dan lain-lain. Oleh karenanya umat Israel bernyanyi memuji Tuhan, sebagai bentuk ungkapan syukur atas berkat, penyertaan dan pertolongan Tuhan dalam hidup mereka. “Bernyanyilah bagi Tuhan dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi!” (ayat 7).
Tindakan, perbuatan atau mujizat Tuhan tersebut dapat juga kita rasakan dalam kehidupan kita dalam berbagai hal. Tuhan juga mau dan mampu melakukan mujizatnya dalam kehidupan kita; dan yang pasti kita pasti pernah merasakannya. Pertolongan Tuhan juga dapat kita rasakan ketika kita dalam keadaan lemah, sehingga kita menjadi kuat Kembali; ketika sakit, Tuhan menyembuhkan; ketika menghadapi kesulitan atau persoalan besar, Tuhan memberikan jalan keluar dan pertolonganNya. Banyak lagi hal yang lain.
Kita adalah orang-orang yang telah merasakan dan menikmati kebesaran Tuhan di dalam kehidupan kita masing-masing. Hal yang patut kita lakukan adalah memuji dan memuliakan Tuhan, terutama melalui nyanyian pujian. Memuliakan Tuhan dapat juga kita lakukan dengan memberikan persembahan kepada Tuhan dan mempersembahkan diri kita dengan cara ikut dalam pelayanan di tengah-tengah gereja dan di tengah-tengah masyarakat. Hal tersebut merupakan respon atau tanggapan kita atas kebesaran Tuhan yang dinyatakan dalam hidup kita; atau sebagai bentuk ucapan Syukur kita kepada Tuhan. “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya” (Mzm 107:1). “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikanNya” (Mzm 103:2). Amin,…!
Pdt. Manaris R. E. Simatupang, M.Th – Bendahara Umum HKBP
Renungan Marturia: Sabtu, 03 Januari 2026
Doa Pembuka:
Ya Tuhan Allah yang Maha Pengasih, tiada berkesudahan kasihMu bagi seluruh ciptaan, yang membuat kami bertahan dalam iman dan pengharapan. FirmanMu selalu kami rindukan, sebab itulah panduan bagi hidup kami. Oleh karena itu, berfirmanlah Engkau ya Tuhan sebab kami telah siap untuk mendengarnya. Amin.
Renungan:
Matius 5:16 – Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Sorga.
Saudara/i yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Firman Tuhan hari ini berbicara mengenai terang yang bercahaya di depan orang. Terang itu muncul bukan dari kemampuan manusia, tetapi dari Kristus yang tinggal di dalam hati kita. Ketika Ia hadir, hidup kita berubah, dan perubahan itu tidak dimaksudkan menjadi rahasia. Terang yang sejati tidak bisa disembunyikan. Ia akan tampak melalui sikap, pilihan, dan tindakan konkret yang mencerminkan kasih Tuhan. Dunia melihat Kristus bukan pertama-tama lewat kata-kata kita, tetapi lewat perbuatan baik yang lahir dari iman yang hidup.
Perlu diingat dengan baik bahwa menjadi seorang Kristen bukan hanya soal keselamatan pribadi. Kita diselamatkan untuk suatu tujuan: menjadi saksi Kristus di tengah dunia yang sering tertutup oleh kegelapan egoisme, keputusasaan, dan ketidakadilan. Iman bukan sekadar keyakinan di dalam hati, tetapi panggilan untuk menghadirkan kebenaran dan kasih Allah dalam kehidupan nyata. Ketika kita hidup sebagai orang yang jujur, adil, peduli, sabar, dan penuh belas kasihan, kita sedang menerangi lingkungan kita.
Namun Yesus menegaskan tujuan dari terang itu agar Bapa dimuliakan. Perbuatan baik bukan panggung untuk mempromosikan diri, melainkan sarana agar orang melihat kesetiaan Allah dalam hidup kita. Ketika kita menolong, mengampuni, atau mengulurkan tangan bagi mereka yang terluka, kita sebenarnya sedang memantulkan kasih Kristus. Terang kita hanyalah pantulan dari Terang Sejati itu sendiri.
Dalam dunia yang gelap, terkadang kita merasa terang kita terlalu kecil. Tetapi bahkan lilin kecil dapat mengubah ruangan yang gelap. Tuhan tidak meminta kita bersinar sebesar matahari; Ia hanya meminta kita setia. Setia pada kebaikan, setia pada kasih, setia pada karakter Kristus yang hidup dalam diri kita.
Maka marilah hari ini kita memilih untuk menjadi terang — dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, bahkan dalam tutur kata sederhana. Biarlah orang melihat perbuatan kita dan bukan memuji kita, melainkan mengenal dan memuliakan Allah yang bekerja melalui hidup kita. Amin.
Doa Penutup:
Terimakasih ya Tuhan Allah, kasihMu dan penyertaanMu-lah yang kami andalkan untuk menjalani kehidupan kami saat ini, dan seterusnya. Kiranya Tuhan diam dalam hati kami, dan menggunakan kami sebagai alatMu untuk memancarkan cahayaMu bagi orang lain, baik dari perkataan, perilaku, dan setiap bagian dari kehidupan kami, demi kemuliaan NamaMu. Ya Tuhan kami sadar bahwa tanpa pertolongan Tuhan kami tidak akan mampu melewati hari-hari kami, semoga Tuhan berkenan untuk menemani kami semua untuk menjalani hidup kami di hari-hari yang akan datang. Ampuni segala dosa dan kesalahan kami ya Tuhan, kiranya Tuhan melayakkan kami untuk menjadi alatMu. Terimalah doa yang kami panjatkan dalam Nama AnakMu Tuhan Yesus Kristus. Amin.
Pdt. Mika Simanjuntak – Pendeta Fungsional di Biro TIK
Renungan Aplikasi Marturia HKBP: Jumat 02 Januari 2026
KEJADIAN 1:1 “Pada Mulanya Allah Menciptakan langit dan bumi”
DOA PEMBUKA : Ya Allah Bapa yang Mahakuasa, kami bersyukur atas pagi hari yang baru ini, nafas kehidupan yang masih dapat kami rasakan. Sebelum kami membuka hati kami terhadap Firman-Mu, kami mohon agar Roh Kudus-Mu membimbing kami, membukakan mata hati kami, sehingga kami dapat mengagumi kebesaran-Mu. Sehingga firmanMu dapat kami pahami dan kami lakukan dalam kehidupan kami. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin
Syalom selamat pagi buat kita semua,
Yang menjadi renungan kita pada hari ini, tertulis dalam kitab Kejadian 1: 1, “Pada Mulanya Allah Menciptakan langit dan bumi” demikian lah firman Tuhan.
Saudara/i yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Sering sekali kita sebagai manusia mempertanyakan yang terjadi dalam kehidupan kita, ketika kita merasa bingung atau hidup kita merasa tidak menentu, baik itu masa depan, maupun ketika kita menghadapi kesulitan, keraguan, atau kehancuran dalam kehidupan kita. Berbagai pertanyaan pun muncul dalam pikiran kita, mengapa penderitaan ini terjadi kepada saya? Bagaimana masa depan saya? Mengapa saya selalu gagal? Dan masih banyak pertanyaan yang muncul ketika kita mengahadapi perjalanan kehidupan kita yang tidak sesuai dengan keinginan kita. ketika semua pertanyaan itu muncul, ingatlah Anda tidak hidup dalam kebetulan. Kuasa yang menciptakan seluruh alam semesta hanya dengan Firman-Nya dan dari ketiadaan adalah kuasa yang sama yang bekerja dalam hidup kita.
Saudara/i yang terkasih Istilah “Pada Mulanya” dalam Kejadian 1:1 ini merupakan suatu kejadian. Yang mana ini menunjuk pada permulaan penciptaan Dunia. Kejadian 1:1 ini adalah pernyataan iman yang paling mendasar, Ayat ini segera membawa kita ke titik sebelum ada waktu, ruang, dan materi. Ini menegaskan bahwa dunia tidaklah abadi dan tidak terjadi secara kebetulan. Ada titik awal, dan titik awal itu menunjuk pada sesuatu yang mendahului dan mengatasi waktu itu sendiri yaitu Allah. Dia adalah Alpha dan Sumber segala keberadaan. Ayat ini memperkenalkan pribadi Allah Yang Mahakuasa, sebagai Pribadi yang berada sebelum segala sesuatu yang kita lihat, dan sebagai Pribadi yang bertindak. Dia tidak hanya membentuk materi yang sudah ada, tetapi Dia menciptakan dari ketiadaan (creatio ex nihilo).
Saudara/i yang terkasih Banyak orang yang bergumul dengan iman mereka, mereka ingin mengetahui jawaban atas pertanyaan “ bagaimana ?” Tetapi, ketika membaca dari Kitab Kejadian, kita menemukan bahwa keyakinan yang diungkapkan dalam kitab suci tidak berasal dari penglihatan, pencatatan, dan pengukuran. Tuhan kita bukanlah objek yang dapat dilihat dan diukur seperti objek lain di dunia. Tetapi melalui imanlah kita menegaskan penciptaan ini, bukan karena kita melihatnya, mengamatinya, dan mengukurnya, tetapi karena kehidupan dan hubungan kita dengan Tuhan menegaskan kebaikan dan keterkaitan hidup kita dengan Tuhan yang menciptakan kehidupan. Ibrani 11:3 mengatakan bahwa hanya oleh iman akan di mengerti dengan jelas tentang permulaan alam semesta. Oleh karena itu iman lah yang di uji ketika kita mempertanyakan segala pertanyaan yang terjadi dalam hidup kita.
Saat kita merasa lelah, stres, dan mencoba menyelesaikan masalah kita dengan kekuatan sendiri. Ini menunjukkan kita melupakan Elohîm (Allah yang kuat). Saat kita merasa bingung atau hidup terasa tidak adil, ingatlah Kejadian 1:1. Dunia ini tidak terjadi tanpa sengaja; ia diciptakan dengan tujuan dan rancangan. Hentikan pertanyaan “Mengapa ini terjadi pada saya?” dan mulailah pertanyaan “Tuhan, apa tujuan-Mu dalam hidup saya?”. Serahkan kendali penuh pada Tuhan kita dan Biarkan Pencipta yang Agung menuntun langkah hidup kita, karena Dia tahu tujuan sempurna dari segala yang Dia mulai. Amin
Doa Penutup
Terima kasih Tuhan untuk FirmanMu yang telah kami dengarkan, ajarilah kami agar kami dapat melakukannya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan kami sehari-hari. Dalam Kristus Yesus kami berdoa, Amin.
C.Pdt. Widora Riaulita Sitorus S.Th- BIRO TIK
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2026
“Allah yang Meluruskan Jalanmu”
Amsal 3:1–6
Terpujilah Allah yang telah menghantarkan kita ke tahun yang baru ini.
Pada Minggu Ujung Tahun Gerejawi, yang sekaligus menjadi peringatan bagi orang-orang yang telah meninggal dunia, tanggal 23 November 2025 yang lalu, kita telah mendengar nama-nama saudara dan teman kita yang telah dipanggil Tuhan. Marilah terlebih dahulu kita perhatikan hal berikut ini:
Kita hanya mendengar nama orang lain yang telah meninggal diwartakan; nama kita belum diwartakan. Sekali lagi: “nama kita belum diwartakan.” Apakah makna dari hal itu bagi kita di tahun baru ini?
Sedikitnya ada tiga hal yaitu:
Pertama, marilah kita mendoakan dan mendukung saudara-saudara kita yang sedang gundah, agar mereka diteguhkan oleh Tuhan dan tetap teguh beriman kepada-Nya.
Kedua, jika kita masih hidup sampai saat ini, itu bukan berarti karena kita lebih baik dari teman-teman kita yang telah mendahului kita. Itu semata-mata hanyalah karena kasih karunia Tuhan. Dan hal inilah yang paling penting: bahwa Tuhan punya rencana yang indah bagi kita, sehingga kita masih diperkenankanNya hidup dan memasuki tahun yang baru ini.
Ketiga, marilah kita bersukacita dan memuji Tuhan sambil menapaki hidup dalam “pengenalan yang benar akan Allah dan segala karya-Nya, serta dengan cara hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya.”
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan!
HKBP menetapkan orientasi pelayanan tahun 2026: “Pengajaran Iman di Tengah Keluarga” (Pangajarion Haporseaon di Tonga ni Keluarga). Kita disapa oleh Tuhan melalui Amsal 3:1–6, yang berbicara erat tentang kehidupan keluarga.
Dalam Amsal 3 ini, ditekankan pentingnya hati (Batak: roha). Dikatakan: “Biarlah hatimu memeliharanya,” “Tuliskanlah itu pada loh hatimu,” dan “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau.” (Batak: unang ma tallushon sian roham habasaon dohot hasintongan). Lebih jelas lagi pada ayat 5: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”
Namun janganlah terlebih dahulu hati kita tertuju pada beratnya perintah itu walaupun akhirnya kita harus memikulnya. Tetapi yang pertama-tama dan terutama harus kita hayati adalah kebaikan dan rahmat Allah yang telah memberi kita “hati.” Itulah kelebihan manusia, anugerah yang tidak diberikan kepada ciptaan lainnya. Maka, pemberian hati merupakan karunia yang sangat mahal. Allah yang Mahabaik menciptakan hati manusia baik adanya.
Kita meyakini bahwa hati adalah tempat Allah berdiam dalam hidup kita. Di dalam hati terjadi pertimbangan; dari hati lahir keputusan; dan hati menentukan perilaku serta perbuatan kita. Karena itu ditegaskan dalam Amsal 4:23, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”
Jika hati kita baik, itu tampak melalui hati yang gembira di dalam Tuhan, hati yang bersyukur dan bermurah hati. Tetapi jika hati rusak, tampaklah melalui rencana jahat (marroharoha), sifat egois (parroha diri), bejat (parroga mago), dan licik (sigodang roha). Hati yang rusak melahirkan perilaku yang rusak pula, dan hidupnya tidak akan berbuah baik.
Karena itu, mari kita pegang teguh firman di ayat 5 itu: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”
Saudara-saudari!
Kita tahu banyak hal di zaman ini yang mengotori hati manusia. Banyak pula yang mencemari hati anak-anak muda kita. Beragam jenis narkoba, judi daring (online), dan permainan digital (game) telah merusak pikiran dan hati generasi muda. Tentang dampak permainan daring, misalnya, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada penyakit yang disebut game disorder (gangguan akibat kecanduan bermain gim) yang menyebabkan gangguan pada pikiran, hati, dan kehidupan sosial seseorang. Anak-anak kita perlu dimerdekakan dari bencana besar akibat narkoba, judi daring, dan kecanduan gim.
Peranan keluarga sangat besar dalam menjaga anak-anak kita agar terhindar dari hal-hal yang merusak. Rumah dan keluarga adalah sekolah pertama, tempat dimana iman, hati, dan perilaku anak dapat bertumbuh. Gereja, sekolah dan lain-lain berperan sebagai penolong dan penopang. Karena itu, keluarga perlu menjadi komunitas pendoa. Firman Tuhan harus selalu terdengar di tengah keluarga. Jika anak-anak kita tidak lagi tinggal di rumah karena studi atau pekerjaan, kemajuan teknologi bisa menolong kita untuk tetap bersekutu dengan mereka, misalnya melalui doa malam bersama lewat video call. Kemajuan zaman pun dapat menjadi alat Tuhan agar keluarga tetap dekat dengan-Nya.
Sampai saat ini ada dua pola didikan anak yang tidak baik.
Pertama, didikan yang terlalu keras: anak dipaksa bekerja melebihi kemampuannya, bahkan mengalami kekerasan verbal (kata-kata yang menimbulkan patah semangat, amarah, putus asa) dan fisik dengan cara memukul. Kekerasan itu berakar di hatinya, dan bila tidak sembuh hingga dewasa, ia dapat menjadi pribadi yang keras atau bahkan menjadi pribadi yang jahat.
Kedua, didikan yang terlalu memanjakan: segala keinginan anak dituruti karena orang tua merasa mampu atau memiliki uang yang berkecukupan. Akibatnya lahirlah apa yang disebut “generasi stroberi,” kelihatannya indah dan menawan tetapi mudah busuk; artinya pribadi yang mudah stres, cepat menyerah, dan kurang daya juang.
Lalu bagaimana seharusnya?
Dengan hikmat dari Tuhan, tugas orang tua adalah tegas tanpa kekerasan, dan membuat anak bahagia tanpa memanjakan.
Dengan mencermati betapa pentingnya tuntunan bagi anak-anak kita, maka selama lima tahun terakhir ini kami terus menyerukan kepada anak-anak Sekolah Minggu, Remaja, dan Naposobulung agar mereka berjanji di hadapan Allah untuk memiliki tiga tinggi dan satu rendah, yaitu:
Tinggi iman,
Tinggi ilmu,
Tinggi perbuatan baik,
dan rendah hati.
Sebagai orang tua, kita terpanggil mendukung mereka supaya dalam hidup mereka ditemukan tiga tinggi dan satu rendah itu. Sebagai gereja, kita pun terpanggil untuk menuntun mereka agar bertumbuh dan dewasa sebagai orang yang setia mengikuti Tuhan. Hal-hal baik lainnya akan mengikuti.
Di tengah dunia yang penuh kesemrawutan dan kesulitan ini, marilah hati kita semakin berpaut kepada Tuhan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi kita yakin: Allah kita hidup dan bekerja di tengah-tengah kita. Di awal tahun ini Tuhan menyapa kita: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”
Allah kita setia. Ia menguatkan kita menghadapi segala kesulitan, menuntun kita memilih yang terbaik sesuai kehendak-Nya, dan memberi kebijaksanaan melebihi kepintaran manusia.
Tidak ada yang terlalu sulit bagi Allah. Karena itu, janganlah kita mudah putus asa. Sekali lagi, mari tanamkan dalam hati kita masing-masing: tidak ada yang terlalu sulit bagi Allah, oleh karena itu jangan mudah putus asa.
Kini, mari kita berjanji di hadapan Tuhan:
“Aku percaya kepada-Mu, ya Allah. Aku akan menjalani tahun 2026 ini dengan sukacita dalam penyertaan-Mu. Jadikan hidupku berkat bagi sesama dan penuntun bagi perubahan yang lebih baik di sekelilingku.” Amin.
Selamat Tahun Baru bagi kita semua
Teriring salam dan doa
HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN
Pearaja Tarutung, 1 Januari 2026
Ephorus HKBP,
Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST
Renungan Harian Marturia HKBP Rabu, 31 Desember 2025
Doa pembuka
Kasih karunia dan damai sejahterah dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus Meyertai Kamu. Amin.
Renungan
Nas: 2 Tesalonika 3: 16-18
3:16 Dan Ia, Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya terus-menerus, dalam segala hal, kepada kamu. Tuhan menyertai kamu sekalian.
3:17 Salam dari padaku, Paulus. Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri. Inilah tanda dalam setiap surat: beginilah tulisanku.
3:18 Kasih karunia Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu sekalian!
Bapa ibu, saudarai-saudari yang terkasih, di penghujung tahun ini, mungkin masih banyak dari antara kita yang belum bisa hidup dengan damai sejahtera. Hal itu dikarenakan! Masih banyak dari antara kita, yang masih menyimpan persoalan di dalam hati; seperti target hidup yang tidak tercapai, dosa yang masih berulang kita lakukan, relasi dan hubungan yang tegang, ketidakpastiaan ekonomi dan politik. Terlebih buat saudara-saudari yang ada di pulau Sumatera, yang baru-baru ini, terkena banjir bandang dan longsor, yang membuat kita kehilangan, ayah, ibu, anak, keluarga dan harta kita.
Bapa ibu, saudara yang terkasih, firman Tuhan saat ini, memang menekankan, agar kita boleh hidup dengan damai sejahtera, di dalam segala hal. Tetapi bukan berarti, Tuhan ingin menuntut kita, agar kita saat ini, berpura-pura, baik-baik saja. Justru, Tuhan ingin mengatakan, ditengah-tengah kepedihan, penderitaan, kebingungan, dan ketidakmampuan kita saat ini, Tuhan ingin mengatakan “Aku menyertai kamu sekalian”.
Ketika Tuhan Menyertai kita dengan Damai Sejahtera, bukan berarti, kita tidak akan mengangis, bukan berarti kita tidak akan terluka ataupun kehilangan. Kita bisa mengalami itu!. Tetapi Damai Sejahtera yang dari pada Tuhan itu, akan mendorong kita, untuk dapat mengakui kuasa Tuhan dan mendorong kita untuk berubah dan melangkah, menuju hidup yang baru, di hari yang baru.
Oleh karena itu, mari bertanya kepada diri kita sendiri. Di Sepanjang tahun 2025 ini, suara siapakah yang paling dominan, kita ikuti untuk menentukan keputusan-keputusan di dalam hidup kita? Siapakah yang kita andalkan untuk mengambil dan melaksanakan keputusan itu? Adakah Tuhan di setiap keputusan dan langkah yang kita ambil, di sepanjang tahun 2025 ini?
Bapa ibu dan saudara-saudari yang terkasih, firman Tuhan yang kita dengar saat ini, bukanlah bertujuan untuk menghakimi kita. Tetapi Firman Tuhan, pada saat ini, ingin menyadarkan dan menguatkan kita kembali. Bahwa Tuhan tidak ingin menutup tahun ini, dengan keputusasaan. Melainkan Tuhan ini mengigatkan kita, bahwa anugerah damai sejahtera Tuhan, senantiasi diberikan Tuhan kepada kita.
Oleh karena itu, mari kita bangkit dan bersorak-sorai, dengan mengatakan “aku akan memulai hidup yang baru, dengan kehidupan yang lebih baik, sebab Tuhan senantiasa menyertai aku”. Amin.
Doa Penutup
Tuhan, kami menyadari bahwa cara hidup kami, disepanjang tahun 2025 ini, masih banyak kekurangan sebab dosa-dosa yang kami lakukan. Yang tentunya itu menjadi salah satu proses, penyebab, akan persoalan dan kondisi pahit yang kami alami saat ini. Tuhan, kami ingin bangkit, kami ingin berubah dan bertobat. Tuhanlah yang kiranya menuntun kami! Agar kami boleh berubah dan beroleh damai sejahtera yang daripada-Mu itu. Terima kasih Tuhan. Melalui Putra-Mu Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.
Pdt. Febri Setiadi Hutapea, S.Th – Fungsional di Kantor Sekretariat Departemen Koinonia HKBP
Kantor Pusat HKBP, Pearaja-Tarutung
Renungan Lainnya
HKBP Channel
Video Terkait Lainnya
34:11
34:13
49:11
58:01
6:13
12:37
13:35
3:33
15:52
15:10
