Renungan Harian Marturia HKBP Rabu, 21 Januari 2026

Doa pembuka
Ya Tuhan Allah yang Mahakuasa, Mahapengasih, Bapa kami di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kami mengucap syukur dengan segenap hati kami, karena Engkau memelihara hidup kami sampai saat ini. BerkatMu menenteramkan hidup kami untuk merenung sejenak, dan mendengarkan suara-Mu yang penuh kasih. Kiranya melalui renungan ini, Engkau berbicara kepada kami dan membuka mata hati kami untuk melihat kebenaran-Mu. Biarlah setiap kata yang terdengar mengarahkan kami lebih dekat kepada-Mu, dan membawa perubahan dalam hidup kami yang memuliakan nama-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kami, kami berdoa. Amin.
Renungan
1 SAMUEL 3 : 10
“Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: “Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Dalam dunia yang semakin bising, kemampuan manusia untuk mendengar justru semakin menipis. Kita hidup di tengah suara notifikasi, tuntutan pekerjaan, target hidup, opini publik, dan hiruk-pikuk media sosial. Ironisnya, kita tahu banyak hal, tetapi jarang benar-benar mendengar. Kita sering berbicara, berpendapat, dan bereaksi, tetapi semakin jarang berhenti, diam, dan membuka hati.
Di tengah realitas seperti itulah Firman Tuhan hari ini berbicara kepada kita. 1 Samuel 3:10 membawa kita pada sebuah malam yang sunyi, ketika seorang anak bernama Samuel terbangun bukan oleh suara dunia, melainkan oleh panggilan Tuhan. Firman mengatakan, “Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil: ‘Samuel! Samuel!’” Ini bukan Allah yang berteriak dari jauh, melainkan Allah yang datang, berdiri dekat, dan memanggil dengan penuh kasih. Yang menarik, Samuel menjawab bukan dengan banyak kata, bukan dengan tuntutan, bukan pula dengan rasa takut. Ia berkata sederhana namun mendalam: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Dalam bahasa iman Israel, “mendengar” bukan hanya soal telinga, tetapi tentang hati yang siap taat. Samuel menyerahkan kendali hidupnya sepenuhnya kepada Allah.
Firman ini lahir pada masa ketika suara Tuhan jarang terdengar, bukan karena Tuhan diam, tetapi karena manusia tidak lagi mau mendengar. Para pemimpin rohani sibuk dengan kepentingan sendiri. Namun Tuhan memilih berbicara kepada seorang anak yang bersedia diam dan membuka diri. Dari sinilah kita belajar: Tuhan tidak terutama mencari orang yang paling hebat, tetapi yang paling siap mendengar. Jika kita jujur, banyak orang Kristen hari ini rajin berdoa, tetapi jarang memberi ruang bagi Tuhan untuk berbicara. Kita datang kepada Tuhan dengan daftar permintaan, tetapi lupa berkata, “Tuhan, apa kehendak-Mu?” Kita ingin Tuhan mengikuti rencana kita, bukan kita yang taat pada suara-Nya.
Firman ini mengajak kita bercermin: di tengah kesibukan, ambisi, dan tekanan hidup, masihkah kita menyediakan ruang sunyi untuk Tuhan? Masihkah kita mau mendengar, meski suara Tuhan mungkin menegur, mengoreksi, atau mengubah arah hidup kita? Renungan ini mengajak kita memulihkan satu doa yang sederhana namun radikal:
“Berbicaralah, Tuhan, hamba-Mu mendengar.” Doa ini bukan doa orang yang tahu segalanya, tetapi doa orang yang mau dibentuk. Dan di sanalah hidup mulai diubah, bukan oleh kebisingan dunia, tetapi oleh suara Tuhan yang lembut dan berkuasa. Amin.
Doa Penutup
Ya Tuhan Allah Bapa kami di sorga, kami mengucap syukur atas Firman-Mu yang hidup dan berkuasa, yang telah Engkau sampaikan kepada kami. Seperti Samuel hamba-Mu, ajarlah kami memiliki hati yang rendah, telinga yang terbuka, dan hidup yang siap taat kepada kehendak-Mu. Jauhkanlah kami dari kebisingan dunia yang membuat kami lalai mendengar suara-Mu. Pimpinlah kami oleh Roh Kudus-Mu, agar Firman yang kami dengar hari ini nyata dalam perkataan, sikap, dan perbuatan kami sehari-hari. Hanya di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat kami, kami berdoa dan berserah. Amin.

CPdt. Johanes Sibarani

Scroll to Top