Renungan Harian di Aplikasi Marturia HKBP Kamis, 22 Januari 2026

Bapak, ibu dan saudara/i yang terkasih dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, sebelum kita memulai seluruh aktivitas kita satu hari ini, marilah kita terlebih dahulu mempersiapkan diri kita untuk mendengarkan firman Tuhan. Kita berdoa.

1. Doa Pembuka
Allah Bapa yang bertakhta di dalam Kerajaan Surga, kami mengucap syukur atas cinta kasih, dan berkat-Mu yang memelihara kehidupan kami. Kami akan mendengarkan firmanMu, pimpinlah hati dan pikiran kami dengan terang Roh Kudus-Mu, agar kami dapat menerima dan memahami firmanMu. Dalam nama Kristus Yesus kami berdoa. Amin.

2. Renungan
Firman Tuhan yang menjadi renungan bagi kita, tertulis dalam 2 Korintus 1:3-4 “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.”

Dalam surat 2 Korintus 1, penulis memulainya dengan berkat dari Allah; dan bahkan bersyukur kepada Allah atas iman dan kasih para pembacanya, ia mengundang mereka untuk mengucap doa syukur atas nama-Nya (ay. 11). Allah dipuji bukan karena Ia kekurangan sesuatu pada diri-Nya sendiri. Tetapi Ia memang menginginkan pujian dari makhluk ciptaan-Nya. Memuji Allah berarti memuji Dia sebagai sumber segala berkat. “Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah kami…” adalah sebuah rumusan doa Yahudi kuno, yang masih dipergunakan oleh orang-orang Yahudi masa kini. Mereka mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan yang dimuliakan (Rm. 10:9; 1 Kor. 12:3; Flp. 2:11).

Penggambaran tentang Allah sebagai Bapa yang penuh belas-kasihan juga mencerminkan bahasa doa Yahudi kuno. Belas-kasihan Allah bagi mereka yang menderita itu terus-menerus dan selalu baru; itulah sebuah tema yang konsisten dalam tulisan-tulisan mazmur (40:11). Semua itu tidak pernah diperoleh karena kerja keras manusia, melainkan diberikan secara cuma-cuma, karena sukacita Allah yang terbesar adalah memperlihatkan belas-kasih. Dari hakikat dan perbuatan-Nya, Ia adalah Allah segala penghiburan (bnd. Mzm. 51:1). Setiap penghiburan sejati bagi mereka yang resah haruslah datang dari Allah.

Dalam teks 2 Korintus 1:3-10, kita menemukan ada penghiburan bagi pengikut Yesus Kristus yang sedang menghadapi berbagai penderitaan dalam mengikut-Nya. Kita menemukan ada 9 kali kata “penghiburan” di sebutkan dalam teks tersebut.

Paulus bersaksi bahwa mereka yang telah mengalami penghiburan dari Allah yang akan mampu menolong orang lain yang menderita. Ibarat pelari estafet, Paulus melanjutkan penghiburan dari Tuhan kepada jemaat. Paulus belajar melalui banyak kesukaran yang ia alami sendiri. Penahanan di penjara disebutkan sebagai salah satu penderitaan Paulus di dalam 2 Korintus 11:23-27. Di sini ia ingin menggarisbawahi bahwa ia merasa hukuman mati itu sudah dijatuhkan kepadanya, sehingga rasa putus asanya sedemikian hebat. Akan tetapi, pengalaman ini mempunyai maksud yang bermanfaat. Ini adalah suatu pelajaran lagi baginya untuk tidak mengharapkan jaminan-jaminan duniawi (lih. 11:22; Flp. 3:4) dan untuk bersandar kepada Allah (Flp. 4:7-10). Mereka yang mengenal kasih Allah di dalam Kristus dapat melihat maksud yang baik bahkan di dalam penderitaan (Rm. 8:28-39). Tuhan bekerja dalam segala sesuatu yang dialami setiap orang, termasuk melalui tangisan, keluhan, dan kekecewaan. Kelemahan manusia memberikan Allah kesempatan untuk menunjukkan kuasa-Nya.

Penderitaan karena iman kepada Kristus adalah cara Tuhan memurnikan umat, membangun jiwa, membina iman, mengolah karakter, sekaligus mempersiapkan umat untuk tugas besarnya: melayani Tuhan. Bersekutu dengan Kristus pun harus mau mengambil penderitaan Kristus. Penderitaan Kristus juga memiliki kemuliaan, penghiburan yang melimpah. Sebab penghiburan sejati dari Tuhan tidak hanya berguna bagi diri sendiri. Tuhan pun rindu kita menghibur sesama yang tengah menderita. Melalui penderitaan yang pernah kita alami dan penghiburan dari Tuhan yang boleh kita rasakan, tentu kita dapat lebih mudah memahami, berempati, dan menguatkan sesama. Sehingga sebagai sesama anggota keluarga kerajaan Allah kita saling menopang dan mendukung di dalam iman.

Lalu, bagaimana kita dapat menerima penghiburan dalam penderitaan?
1. Harus siap menerima penderitaan sebagai pengikut Tuhan Yesus.
2. Harus beriman sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus.
3. Harus berdoa sungguh-sungguh untuk diri sendiri dan juga untuk orang lain.

Dengan melakukan 3 keharusan ini maka penghiburan dalam menghadapi penderitaan adalah pasti, Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

3. Doa Penutup
Ya Tuhan Allah Bapa kami yang penuh belas kasih, terima kasih atas sapaan firmanMu hari ini, yang telah mengingatkan kami untuk selalu mengucap syukur atas segala berkatMu yang tak berkesudahan, Engkau juga adalah Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, dan mengingatkan kami untuk mampu berempati, menguatkan, dan menghibur sesama kami yang menderita. Ajarlah kami Bapa untuk melihat maksud baik dari setiap penderitaan yang kami alami. Secara khusus kami berdoa buat saudara/i kami yang terkena dampak bencana ekologis, kiranya Engkau yang selalu membersamai dan menolong mereka serta mencukupkan segala kebutuhan hidup mereka. Dalam Kristus Yesus, kami berdoa. Amin.

Pdt. Senada Siallagan, M.Th – Pendeta Fungsional Biro Ibadah dan Musik HKBP

Scroll to Top