Ephorus HKBP Pimpin MBO dan Mangompoi HKBP Hajimena Lampung, Serukan Kerendahan Hati Sebagai Fondasi Harmoni Sosial

Dokumentasi Foto

Lampung (29/3) — Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, M.S.T., memimpin Ibadah Minggu Palmarum yang dirangkai dengan perayaan Mameakhon Batu Ojahan (MBO) serta Mangompoi (peresmian) gedung gereja HKBP Hajimena, Resort Kedaton, pada Minggu (29/3/2026). Dalam peristiwa bersejarah bagi jemaat yang berlokasi di Jl. Sebiay, Hajimena, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan ini, Ephorus secara khusus menegaskan pentingnya meneladani aspek kerendahan hati sebagai prasyarat utama dalam merawat harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

Dalam khotbahnya yang bertepatan dengan momen Minggu Palmarum, Ephorus mengajak seluruh umat untuk merefleksikan keteladanan Yesus Kristus yang memasuki kota Yerusalem dengan penuh kerendahan hati. Ia mengingatkan bahwa pembangunan fisik sebuah gedung gereja yang megah harus senantiasa berjalan beriringan dengan pembentukan dan pertumbuhan spiritualitas jemaatnya.

“Kerendahan hati merupakan paradigma utama dalam karya keselamatan Allah. Dalam tindakan merendahkan diri, Allah menghadirkan rekonsiliasi dan pembebasan bagi umat manusia,” tegas Ephorus di hadapan ratusan jemaat dan tamu undangan.

Pdt. Dr. Victor Tinambunan juga menggarisbawahi bahwa internalisasi nilai kerendahan hati memiliki implikasi yang multidimensional. Di dalam lingkup terkecil yakni keluarga, kerendahan hati akan berkontribusi pada terciptanya relasi yang harmonis dan penuh damai. Dalam kehidupan bergereja, sikap ini akan memperkuat solidaritas dan kualitas persekutuan antarjemaat. Sedangkan dalam konteks bermasyarakat yang lebih luas, kerendahan hati menjadi prasyarat mutlak bagi terpeliharanya kerukunan dan harmoni sosial di tengah keberagaman bangsa.

Pesan perdamaian dan kerendahan hati ini dinilai sangat relevan dengan eksistensi HKBP Hajimena itu sendiri. Dalam kesempatan tersebut, diluruskan pula pemahaman mengenai nomenklatur “Hajimena”. Nama tersebut dikonfirmasi bukanlah merujuk pada dua kata terpisah (“Haji Mena”) atau suatu gelar keagamaan tertentu, melainkan satu kesatuan kata yang merepresentasikan simbol sejarah dan dinamika perjalanan iman warga jemaat di lingkungan yang pluralistik.

Berdirinya gedung gereja HKBP Hajimena menjadi representasi konkret dari praktik toleransi dan kohesi sosial yang baik di Indonesia. Meskipun gereja ini tumbuh dan berkembang di tengah komunitas mayoritas beragama Islam, relasi antarumat beragama di wilayah tersebut terjalin dalam suasana yang sangat kondusif dan harmonis. Interaksi sosial yang dilandasi oleh prinsip saling menghormati, kebinekaan, serta pengakuan terhadap perbedaan dinilai sukses menjadi fondasi utama dalam kehidupan bersama di Lampung Selatan. Oleh karena itu, Ephorus berpesan secara khusus agar kehadiran gereja ini benar-benar menjadi tanda kasih Allah yang hidup dan saluran berkat bagi seluruh tatanan kehidupan di wilayah tersebut.

Sebagai informasi, HKBP Hajimena merupakan gereja pagaran (cabang) yang bernaung di bawah HKBP Resort Kedaton, Distrik XXXII Lampung. Saat ini, jemaat tersebut tercatat memiliki anggota sebanyak 301 jiwa atau sekitar 91 Kepala Keluarga (KK).

Ibadah peresmian yang berlangsung khusyuk dan penuh sukacita ini turut dilayani oleh sejumlah pelayan tahbisan pimpinan pusat dan daerah. Turut hadir mendampingi Ephorus adalah Kepala Biro Jemaat HKBP Pdt. Eden Ramses Siahaan, Praeses HKBP Distrik XXXII Lampung Pdt. Mauli Aritonang, Pendeta HKBP Resort Kedaton Pdt. Singhan Pardede, serta pimpinan jemaat HKBP Hajimena Gr. Ernijar Tampubolon, beserta para pelayan penuh waktu dan parhalado lainnya.

Selain dihadiri oleh warga jemaat dari seluruh kategorial usia, perhelatan rohani ini juga disaksikan oleh para tamu undangan dari berbagai kalangan, termasuk tokoh masyarakat dan perwakilan pemerintah setempat. Melengkapi rangkaian ibadah sentral MBO dan Mangompoi, acara sukacita ini juga diisi dengan berbagai kegiatan pelestarian lingkungan dan selebrasi budaya. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi penanaman pohon di area pekarangan gereja, penandatanganan prasasti peresmian, ramah tamah dan makan bersama, serta ditutup dengan tradisi penyematan ulos sebagai bentuk syukur dan penghormatan.

Scroll to Top