Renungan Marturia: Rabu, 7 Januari 2026

Nats Renungan: Imamat 1:1-2

Shalom Bapak Ibu saudara-saudari yang terkasih dalam nama Kristus Yesus, sebelum kita mendengarkan Firman Tuhan, kita satukan hati kita, kita berdoa. Syukur bagimu ya Allah Bapa yang bertakhta dalam Kerajaan Sorga, Engkau memanggil kami untuk mendengarkan FirmanMu. Buka hati dan pikiran kami agar FirmanMu dapat hidup dalam kehidupan kami, Amin. Yang menjadi nats renungan pada kita hari ini, tertulis dalam Imamat Pasal yang pertama ayat  sampai dua, demikian Firman Tuhan:

Ayat 1: TUHAN memanggil Musa dan berfirman kepadanya dari dalam Kemah Pertemuan:

Ayat 2: Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.

Bapak Ibu saudara-saudari, ada banyak suara yang memanggil manusia hari ini, suara tuntutan pekerjaan, suara ekspetasi keluarga, suara media sosial yang menuntut pengakuan, bahkan suara hati yang sering diliputi kecemasan dan rasa tidak layak. Namun ditengah hiruk pikuk itu, pertanyaan yang paling mendasar adalah suara siapa yang pertama sekali paling kita dengar Bapak Ibu. Imamat 1:1 ini membuka renungan ini dengan pertanyaan yang sangat sederhana, yakni Tuhan memanggil Musa dan berfirman kepadanya, artinya adalah Allah adalah Pribadi yang memulai relasi itu. Ia tidak menunggu manusia mencapai kesempurnaan, melainkan memanggil manusia dari tengah realitas hidupnya. Allah memanggil Musa dari dalam kemah pertemuan ini sangat penting, karena kemah pertemuan adalah simbol kehadiran Allah ditengah umat yang masih rapuh, yang masih baru keluar dari perbudakan Mesir. Allah tidak menunggu Israel menjadi bangsa yang matang secara moral terlebih dahulu. Ia hadir lebih dulu, memanggil lebih dulu, dan berbicara lebih dahulu. Artinya Allah berinisiatif, maka dapat dikatakan bahwa Ibadah bukanlah inisiatif manusia kepada Allah, tetapi respons manusia terhadap panggilan Allah, maka jangan tunggu bagaimana kematangan hidup kita, tetapi segera merespons panggilan inisiatif Allah memanggil kita umatnya, dan dikatakan juga apabila seorang mempersembahkan Korban kepada Tuhan. Kalimat ini juga berarti bahwa Allah juga yang membuka jalan, korban bukan sekedar ritual kosong, melainkan sarana relasi. Melalui korban manusia belajar bahwa mendekat kepada Allah yang Kudus dilakukan dengan cara sembarangan. Ada kesadaran akan dosa, kesadaran akan pengorbanan, adanya penyerahan diri, maka dapat dikatakan Bapak Ibu saudara-saudari terkasih, Allah menyediakan cara agar manusia tidak binasa oleh KekudusanNya, tetapi dipulihkan olehNya, maka dizaman ketika Ibadah direduksi menjadi rutinitas, sering dianggap sebagai formalitas, pengalaman emosional sesaat. Maka melalui Imamat 1:1-2 mengingatkan bahwa, Ibadah yang sejati dimulai dari kesadaran bahwa Allah lebih dahulu memanggil kita. Kita datang beribadah bukan karena kita layak, melainkan karena Allah berkenan berbicara menerima kita, membuka tanganNya. Dia tersalibkan dengan tangan yang terbuka, merangkul semua orang. Ibadah bukanlah panggung untuk menunjukkan kesalehan, tetapi ruang perjumpaan kepada Allah yang Kudus dan penuh Anugerah, Amen. Kita bersatu dalam doa. Kembali kami mengucap syukur ya Bapa buat BerkatMu, FirmanMu yang menyapa kami, yang mengajarkan kami Engkau adalah Allah yang berinisiatif untuk meanggil kami, untuk merangkul kami, untuk mengajak kami lebih dekat kepadaMu ya Tuhan, maka ajarilah kami, Roh KudusMu yang membumbing kami, agar kami semakin memahami panggilan yang daripadaMu dan semakin mendekatkan diri kepadaMu ya Bapa. Tuntun kami agar kami mampu melakukan FrimanMu dalam kehidupan kami dalam Kristus Yesus kami berdoa, Amin

 CPdt. Sebastian Butarbutar, S. Th.

Scroll to Top