"Laos didok ma tu nasida: “Boasa songon i biar rohamuna? Dia do umbahen soada haporseaon di hamu?”

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?""

Markus 4:40

Call for Paper : Refleksi Teologis Covid-19


Pandemi Covid-19 sudah satu tahun kita lalui, dan belum ada tanda-tanda bahwa pandemi ini akan segera berakhir. Kita semakin adaptif terhadap kebiasaan-kebiasaan baru yang dituntut oleh pandemi ini: menggunakan masker, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan sebagainya. Satu hal yang menggelisahkan, meskipun pandemi Covid-19 belum berakhir, para ilmuwan sudah mengingatkan bahwa pandemi-pandemi lain akan sangat mungkin terjadi di waktu yang akan datang.

Sebagaimana kita ketahui pandemi Covid-19 telah sangat berdampak ke seluruh aspek kehidupan di dunia. Covid-19 jelas berdampak buruk terhadap kesehatan manusia yang sampai saat ini mencapai 121 juta kasus di seluruh dunia dan 1,43 juta kasus di Indonesia. Di samping masalah kesehatan, Covid-19 berdampak buruk juga terhadap aspek ekonomi masyarakat di berbagai tingkatan. Dampak pandemi Covid-19 terhadap ekonomi rumah tangga di Indonesia telah diteliti oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Agustus 2020 yang lalu. Hasil survei LIPI menunjukkan pandemi Covid-19 berdampak langsung terhadap ekonomi rumah tangga. Banyak yang mengalami keterpurukan, baik Rumah Tangga Usaha maupun Rumah Tangga Pekerja, keduanya memanfaatkan keberadaan tabungan, aset, dan atau pinjaman kerabat (utang) untuk bisa survive.

            Lalu bagaimana dampak Covid-19 bagi mental-spiritual masyarakat, secara khusus warga jemaat HKBP, yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia bahkan luar negeri? Bagaimana umat secara umum bertarung menghadapi Covid-19? Bagaimana umat melalui kesedihan yang mendalam akibat kematian anggota keluarga yang terkena Covid-19? Bagaimana umat meratap tatkala dibatasi protokol penguburan Covid-19 saat melepas korban ke tempat peristirahatan sementara? Bagaimana saat-saat kritis berjuang menghadapi Covid-19 dalam kesendirian isolasi? Bagaimana pandemi Covid-19 memorak-porandakan program pelayanan di huria dan himbauan #stayathome dari pemerintah yang harus ditaati? Bagaimana iman umat tetap kokoh di tengah badai pandemi Covid-19 yang sampai kini belum teratasi? Bagaimana gereja beradaptasi?

Ada banyak sekali pertanyaan yang dapat muncul dan menantikan jawaban. Untuk itu, Balitbang melalui program penulisan buku Refleksi Teologis terkini (Covid-19), ingin memunculkan beberapa pertanyaan dan sejumlah jawaban. Tentunya tidak semua pertanyaan dapat dimunculkan melalui penulisan buku ini dan tidak semua jawaban dapat ditampilkan pula. Namun yang ingin dihadirkan adalah bagaimana HKBP, yang diwakili oleh beberapa penulis, mempersaksikan dan merefleksikan pengalaman mereka bersama Allah di tengah pandemi Covid-19. Di sinilah urgensi dan relevansinya penulisan buku refleksi ini.

Penelitian tentang pandemi covid-19 menjadi salah satu program prioritas Balitbang di tahun 2021 ini karena keterkaitannya yang masih erat dengan tugas utama Balitbang HKBP. Dalam Aturan Peraturan (AP) HKBP 2002 Amandemen Ketiga poin ketiga disebutkan, bahwa Balitbang harus mencermati perkembangan IPTEK, Politik, Ekonomi, Sosbud, dan dampaknya terhadap gereja. Inilah yang menjadi dasar Balitbang dalam mencermati pandemi Covid-19.

            Anda tergerak untuk menuliskan pengalaman dan refleksi dalam buku ini? Bila Anda berminat, silahkan mendaftar atau hubungi Balitbang HKBP. Melalui tulisan Anda tersebut, bukan tidak mungkin para pembaca mendapatpengalaman spiritual yang meneguhkan iman orang Kristen secara umum, umat HKBP secara khusus, serta HKBP secara institusi.Melalui pengalaman dan refleksi yang Anda bagikan, tulisan Anda dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Tulisan-tulisan ini kita harapkan dapat menjadi kontribusi pemikiran yang konstruktif dan inspiratif dari HKBP. Selamat menulis!

 

(JKN/FH)

Pustaka Digital