Laguboti (8/3) – “Setiap pemimpin ada masanya, setiap masa ada pemimpinnya.” Pesan mendalam ini menggema di tengah jemaat HKBP Laguboti Kota saat Kepala Departemen (Kadep) Koinonia HKBP, Pdt. Dr. Deonal Sinaga, menyampaikan khotbah pada kebaktian Minggu Okuli. Kutipan ini menjadi daya tarik dan titik tolak bagi sebuah refleksi penting tentang bagaimana generasi saat ini harus mempersiapkan landasan iman dan kepemimpinan yang kokoh bagi generasi penerus.
Kehadiran Pdt. Deonal Sinaga di Laguboti membawa semangat pembaruan. Selain melayani pemberitaan firman Tuhan, beliau secara khusus memberikan pembinaan terkait Tahun Transformasi Pengajaran Iman. Antusiasme jemaat terlihat luar biasa; alih-alih beranjak pulang seusai ibadah, seluruh jemaat memilih tetap duduk tenang dan mendengarkan arahan pastoral tersebut dengan penuh keseriusan.
Dalam khotbahnya yang didasarkan pada 1 Tawarikh 22:14-19, Pdt. Deonal mengangkat kisah Raja Daud. Meskipun Daud memiliki impian luhur membangun Bait Suci, ia tunduk pada ketetapan Tuhan bahwa tugas itu menjadi porsi putranya, Salomo. Daud meresponsnya dengan tidak berhenti berusaha, melainkan mempersiapkan segala material dan dukungan rakyat untuk masa depan. “Inilah satu ciri pemimpin besar, sekalipun bukan dia yang mewujukannya, namun dia mempersiapkan yang terbaik untuk estafet kepemimpinan itu,” tegas Pdt. Deonal, mengajak jemaat untuk memberikan keteladanan nyata (leading by example).
Lebih lanjut pada sesi pembinaan di tengah keluarga, Kadep Koinonia menekankan pentingnya meneladani tradisi pengajaran umat Israel. Beliau menyerukan agar Syema Yisrael kembali dijadikan fondasi utama bagi keluarga masa kini dalam mendidik anak-anak untuk mencintai Tuhan dengan segenap hati, segenap kekuatan, dan segenap akal budi. Sejalan dengan makna Minggu Okuli—mataku tetap terarah kepada Tuhan—keluarga Kristen dipanggil untuk menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya pusat pengharapan.
Suasana persekutuan yang sarat makna ini ditutup dengan keakraban yang hangat. Pdt. Deonal Sinaga mengajak Koor Ama (Paduan Suara Kaum Bapak) bernyanyi bersama mengumandangkan pujian “Di na Mulak na Tarbuang”, yang menyempurnakan sukacita ibadah hari itu.








