Doa pembuka
Bapa kami yang di Surga, Bapa yang Maha Kasih di dalam Tuhan Yesus Kristus, kami datang ke hadirat-Mu dengan hati yang penuh syukur. Kami percaya bahwa setiap nafas yang kami hirup adalah anugerah dari-Mu. Saat ini, ketika kami merenungkan firman-Mu, biarlah Roh Kudus bekerja di dalam hati kami, sehingga kami mengerti, merasakan, dan mengalami kebenaran-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.
Renungan
GALATIA 2 : 16
“Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan”
oleh karena melakukan hukum Taurat.”
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Dalam hidup ini, hampir semua orang dibesarkan dengan satu keyakinan yang sama: nilai diri harus dibuktikan. Sejak kecil kita diajari, “kalau rajin, kamu berharga.” Di sekolah, nilai menentukan siapa kita. Di dunia kerja, prestasi menentukan penerimaan. Di media sosial, pengakuan diukur dari respons orang lain. Tanpa sadar, pola ini meresap hingga ke dalam iman. Banyak orang Kristen hidup seolah-olah berkata: “Aku harus cukup baik dulu supaya Allah menerimaku.”
Di tengah pola pikir seperti inilah, Firman Tuhan dari Galatia 2:16 berbicara dengan sangat tegas dan membebaskan. Rasul Paulus berkata: tidak seorang pun dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Kalimat ini bukan sekadar pernyataan teologis, tetapi sebuah koreksi mendalam atas cara manusia memahami relasi dengan Allah. Paulus menegaskan bahwa pembenaran bukan hasil usaha, bukan buah kesalehan, bukan ganjaran ketaatan. Pembenaran adalah keputusan Allah, bukan pencapaian manusia. Kita dinyatakan benar bukan karena apa yang kita lakukan, tetapi karena apa yang Kristus telah lakukan di kayu salib. Inilah kabar yang sering sulit diterima, sebab hati manusia cenderung ingin berkontribusi, ingin membuktikan diri, ingin merasa layak. Akibatnya, iman berubah menjadi beban. Orang Kristen rajin beribadah tetapi gelisah. Aktif melayani tetapi mudah menghakimi. Taat secara lahiriah, tetapi lelah secara batiniah. Banyak yang hidup dalam rasa bersalah, ketakutan gagal, dan tekanan untuk terlihat rohani.
Firman ini mengingatkan kita: kita tidak melayani supaya dibenarkan, tetapi melayani karena sudah dibenarkan. Ketaatan bukan syarat diterima Allah, melainkan respons syukur atas anugerah-Nya. Di tengah realitas sosial hari ini, ketika orang dinilai dari kinerja, jabatan, dan citra, Galatia 2:16 mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: di mana aku menggantungkan nilai diriku? Pada usaha sendiri, atau pada kasih karunia Kristus?
Firman ini memanggil kita untuk hidup dari iman, bukan dari kecemasan. Hidup dari anugerah, bukan dari pembuktian diri. Dan dari situlah lahir ketaatan yang sejati, rendah hati, dan penuh kasih. Karena pada akhirnya, kita bukan orang berdosa yang berusaha menjadi benar, tetapi orang yang telah dibenarkan dan kini belajar hidup benar di hadapan Allah.
Amin.
Doa Penutup
Ya Tuhan Allah kami, Bapa di sorga, kami bersyukur atas Firman-Mu yang telah kami dengar. Engkau menyatakan kepada kami bahwa kami dibenarkan bukan oleh perbuatan atau kebenaran kami sendiri, melainkan semata-mata oleh kasih karunia-Mu di dalam Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Ampunilah kami, ya Tuhan, apabila dalam hidup dan pelayanan kami sering mengandalkan usaha, aturan, dan kebaikan kami, namun lupa hidup dalam iman dan kerendahan hati di hadapan-Mu.
Teguhkanlah iman kami, supaya kami hidup bukan untuk membuktikan diri, melainkan sebagai orang-orang yang telah Engkau terima dan Engkau benarkan. Ajarlah kami menaati kehendak-Mu sebagai buah syukur atas anugerah-Mu, dan menjadi saksi kasih Kristus di tengah dunia tempat kami Engkau utus. Di dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kami yang hidup, kami berdoa dan mengucap syukur. Amin.
CPdt. Johanes Sibarani


