Melihat HKBP sebagai Rumah Bersama: Calon Pelayan HKBP Menjadi Simbol Harapan dan Semangat dalam Pelayanan di Era Sentralisasi Keuangan

“HKBP adalah rumah kita bersama. Kita tidak boleh lagi memikirkan diri sendiri. Pelayanan saya berdampak ke kalian, pelayanan kalian berdampak ke saya. Semakin baik pelayanan kita, maka semakin baik pula dampaknya bagi HKBP secara hatopan. Demikian sebaliknya. Oleh sebab itu, dalam semangat bertolong-tolongan seperti tertulis di Galatia 6:2 yang adalah dasar biblis pelaksanaan sentralisasi keuangan, kita mesti terus berkolaborasi membangun HKBP,” demikian disampaikan Pdt. Jhon Kristo Naibaho (Ketua Balitbang HKBP) di hadapan 235 orang calon pelayan HKBP yang sedang mengikuti Latihan Persiapan Pelayanan (LPP) II di Auditorium HKBP, Seminari Sipoholon, Senin, 10 Juni 2024.


Para calon pelayan ini sudah satu tahun penuh melayani di berbagai huria dan lembaga HKBP. Sekitar 30 orang dari antara mereka melayani di huria yang selama ini belum pernah memiliki pelayan penuh waktu yang dikirim kantor pusat HKBP. Pada era desentralisasi, jemaat-jemaat kecil ini tidak mampu mencukupi kebutuhan balanjo calon pelayan atau pelayan. Setelah sentralisasi, barulah mereka dapat merasakan pelayanan yang menyeluruh dari HKBP melalui pelayan yang dikirim ke gereja mereka. Inilah perwujudan salah satu nilai sentralisasi keuangan: Kesetaraan (Equality), di mana semua huria mendapatkan kesempatan untuk dilayani pelayan penuh waktu di gerejanya. Ini dapat terjadi karena seluruh huria di HKBP saling menopang dalam semangat tolong-menolong.


Dalam kesempatan ini, Jhon Kristo menambahkan, “Balitbang sudah diminta Ompui Ephorus untuk membuat riset mengenai dampak kehadiran calon pelayan yang berjumlah 239 orang yang direkrut tahun lalu. Harapan kita tahun lalu, kalian menjadi pembawa semangat perubahan dalam pelayanan, meningkatkan dan mengembangkan pelayanan HKBP sebagaimana diamanatkan Sinode Godang tahun 2022. Hasil riset ini akan menjadi dasar pertimbangan Ephorus untuk menerima calon pelayan baru di tahun ini. Oleh sebab itu, kita harus kerja keras, agar sentralisasi semakin mantap. Dengan demikian, akan semakin banyak pelayan yang dapat kita rekrut untuk melayani huria-huria yang membutuhkan pelayan, termasuk membayar “hutang” HKBP dalam bermisi, baik di dalam maupun di luar negeri.”


Dalam sesi pertama, Jhon Kristo memperlihatkan data kinerja sentralisasi keuangan secara umum dan juga secara khusus data gereja tempat pelayanan para calon pelayan tersebut yang telah dipilih secara random. Tujuannya, agar para calon pelayan ini melihat dan memahami gambaran besar sentralisasi keuangan. “Cara pandang kita harus selalu melihat gambaran besarnya, meskipun kita melayani di gereja-gereja kecil yang tersebar di Indonesia,” demikian ditandaskan Jhon Kristo. Oleh sebab itu, menurut Jhon Kristo, “Kita harus menghidupi mindset dan budaya baru dalam pelayanan di era sentralisasi keuangan ini. Pelayanan kita tidak dapat lagi hanya seperti yang sudah-sudah. Kita harus kreatif, inovatif, relevan terhadap kebutuhan umat. Khotbah-khotbah kita haruslah khotbah-khotbah terbaik yang dipersiapkan dengan baik pula.”


Selain itu, ditambahkan pula oleh Jhon Kristo, “Sembari kita bangkitkan dan kembangkan pelayanan, tetaplah pelihara dirimu sebagai pelayan yang dapat dipercaya di antara umat Tuhan. Disiplin, bersih, menjauhi penyakit-penyakit seperti judi, kemalasan, kecurangan, bagi yang merokok harus dikurangi dan kemudian berhentilah merokok, hiduplah dalam keugaharian, jaga kesehatan fisik dan mental, jadilah pembawa kegembiraan bagi semua warga gereja.”


Pada sesi kedua, materi yang disampaikan ialah latihan mengelola aplikasi sentralisasi keuangan. Sesi ini dipandu oleh Pdt. Ondy Siagian, pendeta fungsional di Balitbang. Mengapa ini perlu? Karena dalam praksis di lapangan, para calon pelayan sering diminta oleh gereja untuk mengelola aplikasi. Dalam sesi ini, Pdt. Ondy mengajarkan tahap demi tahap mengelola aplikasi, dari cara memasukkan data persembahan sampai pada proses pengirimannya. Kepada para calon pelayan ini pun dibagikan user guide aplikasi yang sudah disediakan oleh Tim IT HKBP. Para calon pelayan ini sebelumnya sudah diminta untuk membawa laptop agar dapat langsung praktik menggunakan aplikasi.


Satu hal yang ditekankan oleh Pdt. Ondy ialah soal disiplin dalam penginputan data. “Kita harus disiplin menginput data pelean setelah kegiatan ibadah berlangsung. Sebagaimana diputuskan Sinode Godang, paling lama pelean dikirimkan tiga hari setelah ibadah berlangsung. Oleh sebab itu, setiap selesai ibadah, langsung saja input datanya dan kemudian transfer. Jangan menunda-nunda. Kalau hari Senin atau Selasa atau Rabu ada ibadah lain yang sifatnya pengumpulan persembahan, juga langsung saja input datanya dan transfer peleannya. Dengan begitu, kita akan lebih mudah mengelola pembukuan keuangan gereja kita,” demikian ditandaskan Pdt. Ondy.


 Pada bagian penutup, Jhon Kristo menegaskan kembali, “HKBP adalah rumah kita bersama. Mari kita jaga dan pelihara bersama. Pelayanan yang baik akan mendorong umat untuk semakin mencintai gerejanya. Melalui pelayanan, kita panggil kembali warga gereja yang selama ini tidak aktif. Semakin tinggi tingkat kehadiran, semakin tinggi persembahan. Semakin tinggi persembahan, semakin mantap sentralisasi keuangan, dan dampaknya semakin banyak pelayan yang dapat kita rekrut untuk melayani umat Tuhan di mana pun berada.”


Latihan Persiapan Pelayanan ini berlangsung dari tanggal 6 – 12 Juni 2024. Setelah ini, oleh Pimpinan HKBP, mereka akan ditugaskan kembali melayani di berbagai gereja. Kita doakan para calon pelayan ini dikuatkan Roh Kudus untuk melayani umat Tuhan di mana pun.

(Balitbang/TIK)


Pustaka Digital