Pemberdayaan Full Timer Hari Kedua: Gereja Memiliki Tanggungjawab Besar terhadap Perkembangan Karakter ASM, Remaja & Naposobulung

Praeses HKBP Distrik XXVIII Deboskab, Pdt. Nekson Simanjuntak, M.Th, membuka sesi keempat Pemberdayaan Pelayan Full Timer yang Melayani di Sekolah Minggu, Remaja, dan Naposobulung yang telah dimulai pada Kamis (24/3) lalu. Sesi yang dimulai pukul 10.45 pagi tersebut bertemakan: Pelayanan Gereja yang Memengaruhi Karakter Remaja di Tengah-tengah Kemajuan Zaman.


Salah satu topik pemberdayaan yang disampaikan oleh Pdt. Nekson adalah tentang bagaimana pentingnya peran pelayan full timer dalam mengenai karakter remaja, perkembangan, dan tantangan yang dihadapi oleh remaja, dan potensi yang ada dalam diri remaja di usianya. Berdasarkan hal itu, Pdt. Nekson menekankan akan pentingnya peran pelayan sebagai pendamping dalam mengembangkan potensi yang ada dalam diri remaja yang dilayani. “Gereja sangat memiliki peran yang penting untuk berpartisipasi dalam pengembangan karakter remaja,” tegas Pdt. Nekson.


Diskusi kelompok yang dilakukan peserta pemberdayaan menjadi puncak dari sesi keempat ini. Pdt. Nekson membagi peserta pemberdayaan ke dalam beberapa kelompok diskusi untuk membicarakan mengenai Timothy Platform, sebagaimana telah dijelaskan Pdt. Nekson sebelumnya. Belajar dari Timotius, Pdt. Nekson berharap setiap peserta pemberdayaan ini dapat belajar dari Timotius dan membetuk anak-anak, remaja, dan naposobulung yang dilayani agar berkarakter seperti Timotius.



Materi Metode Mengajar Anak Sekolah Minggu kemudian disampaikan oleh Pdt. Kadir Manullang, S.Th pada sesi yang kelima. Dalam sesi ini, Pdt. Kadir berfokus untuk mempersiapkan setiap pelayan full timer peserta pemberdayaan untuk lebih memperhatikan metode pengajaran yang akan disampaikan kepada anak-anak Sekolah Minggu. “Terdapat 4 hal yang harus diingat dalam mengajar Sekolah Minggu, yaitu untuk mengisi masa kanak-kanak ASM, membuka pola pikir ASM, menanamkan teladan kepada ASM, dan membuka kreativitas ASM,” ucap Pdt. Kadir. Dalam sesi ini Pdt. Kadir juga memperlihatkan cara membuat alat peraga Sekolah Minggu di depan para peserta pemberdayaan.



Menutup rangkaian sesi dalam pemberdayaan ini, Pdt. Toho Sinaga, S.Th, M.I.Kom, menyampaikan materi mengenai Kaderisasi Pelayanan bagi Sekolah Minggu, Remaja, dan Naposobulung HKBP. Dalam sesinya, Pdt. Toho menekankan akan pentingnya kaderisasi pelayanan bagi ASM, Remaja, dan Naposobulung guna menanamkan kecintaan mereka kepada Tuhan dan kepada HKBP serta mendorong mereka agar memiliki kesediaan untuk terlibat dalam organisasi pelayanan gereja. “Kaderisasi sangatlah perlu dalam pelayanan gereja untuk mencegah terciptanya the lost generation,” tegas Pdt. Toho. Terdapat beberapa metode yang ditawarkan oleh Pdt. Toho untuk mencegah terciptanya generasi yang hilang dari ketiga kategorial ini, “Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah untuk menangkap mereka tepat sebelum mereka memasuki masa transisi dari satu kategorial ke kategorial yang lainnya. Semisal seorang anak pra-remaja akan segera mengakhiri masa belajarnya dari Sekolah Minggu, maka setiap pelayan harus segera merangkul mereka dan memperkenalkan mereka ke kategorial berikutnya, yaitu kategorial remaja, dan begitu seterusnya bagi mereka yang akan selesai dari kategorial remaja,” jelas Pdt. Toho.


Setelah seluruh materi disampaikan dalam enam sesi, Pdt. Daniel Taruliasi Harahap, M.Th memberikan pesan penutup kepada para peserta pembedayaan. “20 tahun mendatang, HKBP adalah mereka yang berasal dari Sekolah Minggu yang bapak, ibu layani. Jadi, mari kita garis bawahi bahwa Sekolah Minggu adalah benar-benar masa depan HKBP,” ucap Pdt. Daniel. Lebih lagi, Pdt. Daniel mengatakan, “Sekolah Minggu adalah parameter seseorang akan bergabung dalam gereja. Jika Sekolah Minggu di gereja itu baik, maka orang tua akan mendaftarkan keluarganya bergabung dalam gereja itu, tetapi jika Sekolah Minggunya tidak baik, maka mereka akan mencari gereja lain. Hal ini dilandaskan oleh pemikiran bahwa Sekolah Minggu memang sangatlah penting, dan kita harus sungguh-sungguh dalam pelayanan ini.”


Kegiatan Pemberdayaan Full Timer yang melayani di Sekolah Minggu, Remaja, dan Naposobulung yang telah dimulai sejak Kamis (24/3) resmi ditutup dalam ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Riyan Ritonga, S.Th.