"Tarehon hamu ma pinggolmuna, jala ro ma hamu tu Ahu! Tangihon hamu ma, asa mangolu tondimuna i! Jadi bahenonHu ma tu hamu padan salelenglelengna: I ma padan parasian na sintong i tu si David na so tupa muba.

Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud."

Jesaya 55 : 3

Press Release Rapat Pendeta HKBP 2019

PRESS RELEASE

RAPAT PENDETA HKBP 2019

 

1.      Salah satu agenda terbesar HKBP pada tahun 2019 ini ialah Rapat Pendeta HKBP. Rapat ini telah diaturkan dalam Aturan dan Peraturan HKBP 2012 Setelah Amandemen Kedua untuk dilaksanakan dalam frekuensi dua tahun sekali. Rapat Pendeta berlangsung pada 21–24 Oktober 2019 di Auditorium HKBP Seminarium Sipoholon. Menurut Buku Panduan Rapat Pendeta HKBP 2019, jumlah peserta rapat ada 1.876 pendeta.

2.  Urgensitas Rapat Pendeta dilaksanakan selalu mengevaluasi, membahas, dan merumuskan bersama mengenai relevansi pengajaran dan kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan teologi HKBP, ajaran (dogma) HKBP, Hukum dan Siasat Gereja (Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon), liturgi, dan tata kehidupan rohani di gereja. Setiap rumusan-rumusan tersebut akan dibawakan ke Sinode Agung (Sinode Godang) HKBP tahun depan.

3.    Pada Rapat Pendeta HKBP kali ini mengangkat tema besar: Aku Mendoakanmu agar Imanmu tidak Jatuh dan subtema: Pendeta HKBP Belajar dan Bergegas Melaksanakan Tugas Panggilannya agar Iman tidak Jatuh pada Era Revolusi Industri Keempat.

4.    Melalui tema dan subtema tersebut, HKBP menaruh perhatian besar atas perkembangan zaman hingga saat ini memasuki era Revolusi Industri 4.0 (bahkan sudah ada yang menjajaki Industri 5.0 – Robotnik). Bagaimana Pendeta HKBP melaksanakan tugas panggilannya di tengah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang pesat. Semua ditandai dengan percepatan-percepatan di segala bidang, baik secara teknologi dan etos kerja. Ekspansi masif teknologi digital dan internet sangat memengaruhi gaya hidup dan mental masyarakat luas.

5.    HKBP merespons era Revolusi Industri 4.0 salah satunya dengan meluncurkan website resmi HKBP pada Sinode Agung HKBP 1 Oktober 2002 si Auditorium HKBP, Kecamatan Sipoholon. Semenjak peluncuran tersebut, penggunaan media internet di aras pelayanan para pelayan HKBP semakin terasa. Tentunya spirit Revolusi Industri 4.0 ini memiliki dampak positif yang banyak. Namun, juga memiliki dampak negatif, di antaranya gencar menawarkan berbagai kemudahan-kemudahan melalui percepatan-percepatan yang dimiliki Industri 4.0., sehingga melahirkan budaya instan, hedonis, dan menggiring mentalitas pribadi semakin individualis. Bahkan, sebagian besar atau seluruhnya sudah bersandar kepada pandangan serba rasional dan logis.

6.    Ada tiga latar belakang sosial agama yang memotori tema besar ini. Pertama, budaya instan dan hedonis semakin lama semakin menggiring orientasi masyarakat menjadi konsumtif dan mengutamakan kenikmatan, memeroleh hasil dan kemewahan dalam waktu yang relatif singkat. Kedua, orientasi budaya individualis semakin meremukkan (bahkan menghilangkan) tatanan nilai kebersamaan di dalam masyarakat, terutama masyarakat Batak yang memiliki karakteristis hidup dalam kebersamaan dan berdampingan, baik terhadap sesamanya maupun kepada alam semesta. Ketiga, pandangan hidup yang bersandar kepada rasionalitas dan logis cukup berpengaruh terhadap model kepercayaan masyarakat. Iman berhadapan dengan rasio. Ini berpotensi mereduksi keimanan seorang Kristen yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.

7.       Melalui latar belakang sosial agama tersebut muncul sederet pertanyaan reflektif, di antaranya: bagaimana pendeta HKBP dengan tugas panggilannya menghadapi perubahan sosial keagamaan yang begitu cepat di era Revolusi Industri 4.0. ini? Apakah pendeta HKBP betul-betul dalam posisi siap atau baru menjelang persiapan dalam Revolusi Industri 4.0. ini? Apakah pendeta HKBP tetap dalam pola-pola konvensional atau justru turut berperan dalam irama era ini? Masih relevankah persekutuan jemaat yang berlangsung selama ini yang tekesan mekanistis dan sekadar ritual, atau adakah cara-cara lain yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman untuk melayani generasi digital? Bagaimana pendeta HKBP melihat kenyataan individu-individu warga jemaat menghadapi tantangan aman dan tetap setia beriman kepada Yesus Kristus?

8.    Selain mengevaluasi dan membahas agenda-agenda rapat yang telah dijabarkan di atas, Rapat Pendeta HKBP juga membahas laporan dan kegiatan Ketua Rapat Pendeta yang telah berjalan sejak Desember 2017. Juga di dalamnya Tumpak Liat Pandita HKBP dan upaya-upaya peningkatan kesejahteraan pendeta HKBP.

9.  Rapat ini diketuai oleh Pdt David Farel Sibuea MTh DMin (Sekretaris Jenderal HKBP) dan Sekretaris Pdt Herbin Purba MTh (Sekretaris Ketua Rapat Pendeta HKBP). Ketua Rapat Pendeta Pdt Dr Robinson Butarbutar.