Renungan Harian HKBP | 29 September 2023

Doa Pembuka: Ya Tuhan Allah kami yang Maha baik, terima kasih atas hari baru yang masih dapat kami hidupi saat ini. Karena kami tahu bahwa Engkaulah pemilik kehidupan kami, maka kami ingin memulai hari kami terlebih dahulu dengan mendengarkan firman-Mu. Tuntun dan tolonglah kami untuk memahami dan melakukan firman-Mu hari ini, ya Tuhan. Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa dan menyerahkan hidup kami. Amin.

 

Bapak, ibu yang terkasih, teks renungan bagi kitia hari ini tertulis dalam Pengkhotbah 7:1; “Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran.”


Bapak, ibu, saudara yang terkasih, kita tentu pernah mendengar pepatah yang mengatakan: Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Pepatah ini merupakan pepatah yang sudah sangat popular bagi kita di mana kita memahami bahwa dalam kematiannya, manusia tidak benar-benar hilang begitu saja, melainkan ia akan meninggalkan reputasinya, baik atau buruk perilakunya selama ia hidup.


Dalam teks renungan kita hari ini Salomo mengatakan hal yang serupa dengan pepatah itu dengan mengingatkan kepada para pembaca Pengkhotbah akan pentingnya nama yang harum. Nama yang harum tidak didapatkan manusia secara tiba-tiba, sebab hal ini dihasilkan dari perilaku yang baik selama hidup. Pentingnya nama yang harum bahkan dikatakan lebih berharga daripada minyak yang mahal.


Minyak yang mahal merupakan pelambangan dari segala kebaikan/ keuntungan di bumi yang sering kali dianggap sebagai hal yang membahagiakan. Minyak ini memiliki harum yang menyukakan hati, karena itu minyak yang mahal pada masa Alkitab sering kali digunakan untuk mengurapi orang-orang terhormat ataupun raja. Yesus sendiripun pernah diurapi dengan minyak yang mahal itu ketika Ia berada di Betania (Matius 26:6-13).


Meskipun memiliki nilai yang begitu berharga di mata orang banyak, Pengkhotbah menekankan bahwa minyak yang mahal itu tidaklah lebih berharga daripada nama yang harum. Dalam konteks saat ini kita mungkin pernah dipuji oleh orang-orang di sekitar kita tentang betapa harumnya kita ketika kita menggunakan parfum yang sangat wangi dan mahal harganya. Namun dalam kurun beberapa jam atau sehari saja, wangi parfum itu mungkin telah pudar dan tidak lagi melekat pada diri kita.


Berkaitan dengan hal itu penulis Pengkhotbah mengingatkan kita bahwa nama yang harum adalah lebih baik daripada minyak yang mahal karena nama yang harum tidak akan mudah untuk pudar dan dilupakan oleh orang lain begitu saja. Semakin harum nama seseorang, maka akan semakin semerbak pula menyebar kepada orang banyak. Jika parfum mahal bisa bertahan selama satu hari penuh, nama yang harum bahkan bisa terus menyebar sampai bertahun-tahun, puluhan, bahkan ratusan. Jika parfum mahal hanya bisa dinikmati harumnya oleh orang yang bertemu dengan kita, nama yang harum bahkan bisa dinikmati oleh orang-orang yang sama sekali tidak pernah bertemu dengan kita. Nama yang harum itu adalah kebaikan, perilaku yang baik yang berubah menjadi reputasi yang baik yang akan bertahan sekalipun kita tidak lagi ada di dunia.


Apabila seseorang telah memiliki nama yang harum karena reputasi selama hidupnya sangat baik, maka kita dapat mengerti mengapa pengkhotbah mengatakan bahwa hari kematian adalah lebih baik daripada hari kelahiran.


Ketika seseorang lahir ke dunia, satu-satu orang yang menangis atas kehadirannya adalah dirinya sendiri, sementara orang lain justru merasa senang. Akan tetapi dalam peristiwa kematian, satu-satunya orang yang tidak menangis adalah diri orang itu sendiri, sementara orang lainnya menangisi kepergiannya.


Hal ini membuat seseorang yang telah menjalani hidupnya dengan baik akan merasa yakin tidak ada yang perlu ia khawatirkan menuju masa kematiannya karena ia akan meninggalkan nama yang harum sekalipun ia telah pergi dari dunia.


Namun catatan terpenting bagi kita semua pada hari ini adalah bahwa nama yang harum dan kematian yang ditangisi oleh orang banyak itu tidak akan dapat terjadi jika kita tidak hidup dengan baik dan seturut dengan kehendak Tuhan. Karenanya, langkah pertama yang harus kita lakukan saat ini adalah dengan memaksimalkan cara hidup kita selama di dunia dengan sebaik-baiknya dan menjadi berkat bagi semua orang agar kelak ketika Tuhan telah memanggil kita untuk kembali kepada-Nya kita akan meninggalkan nama yang harum kepada orang-orang di sekitar kita. Amin.


Doa Penutup:

Bapa kami yang di dalam surga, kami bersyukur sekali atas firman yang telah kami dengarkan pada hari ini. Kami berterima kasih karena Tuhan telah mengingatkan kami agar kami hidup dengan sebaik-baiknya dengan seturut pada kehendak-Mu selama kami hidup sehingga jikapun kami telah kembali ke pangkuan-Mu nantinya, kami dapat meninggalkan nama yang harum yang wanginya dapat tersebar luas. Bapa kami yang baik, karena itu mampukan dan pimpinlah kami dalam menjalani hari-hari kami di dunia, karena kami tidak akan dapat melakukannya tanpa pertolongan-Mu. Kami menyerahkan seluruh kehidupan kami hanya di dalam tangan pengasihan-Mu yang kudus. Di dalam Kristus kami telah berdoa dan bersyukur kepada-Mu. Amin.


CPdt. Cintya Crisna Pardede – Biro TIK HKBP

 

Pustaka Digital