"Tarehon hamu ma pinggolmuna, jala ro ma hamu tu Ahu! Tangihon hamu ma, asa mangolu tondimuna i! Jadi bahenonHu ma tu hamu padan salelenglelengna: I ma padan parasian na sintong i tu si David na so tupa muba.

Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud."

Jesaya 55 : 3

HKBP Lobu Tangga Resort Muara, Model Gereja Pariwisata


Rabu, (19/5/2021),  Jemaat dan Penatua HKBP Lobutangga Resort Muara berjumlah 15 orang bersama Pdt. Leonardo Sinambela, S.Th, Pendeta HKBP Resort Muara dan Pdt. Darna Lumbantobing, Distrik XVI Humbang Habinsaran berdiskusi dengan pimpinan HKBP  di Gedung Raja Pontas Lumbantobing. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut  pemberdayaan Parhalado HKBP Resort Muara pada 14 Mei 2021 yang lalu.

Ephorus menginformasikan di tahun  2016,  Danau Toba sebagai sumber parawisata. Kini Danau Toba telah ditingkatkan menjadi super prioritas wisata. Tujuannya semata-mata  meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar Danau Toba dan ekonomi negara.  Maka sudah saatnya HKBP mempersiapkan jemaatnya untuk menyambut Danau Toba sebagai super prioritas wisata.

Langkah yang dilakukan HKBP di tahun pemberdayaan dalam rangka menyambut keparawisataan Danau Toba. Pertama, melatih para pendeta dan pelayan  di bidang kepariwisataan. Di bulan Februari 2021,  HKBP telah membangun kerjasama dengan Gereja Kristen Protestan Bali (GKPB). Kedua, mencari pendeta dan pelayanyang mau mengembangkan pelayanannya di bidang kepariwisataan. Ketiga, menetapkan model gereja wisata  dan sumber inspirasi bagi gereja lainnya. Setelah melihat letak  beberapa gereja di sekitar Danau Toba,  Pimpinan HKBP menetapkan HKBP Lobutangga sebagai model gereja wisata. 


Sesudah menerangkan semuanya, Ephorus mempertanyakan   kesediaan  HKBP Lobutangga sebagai  model gereja wisata dan kemauan warga jemaat untuk menyaksikan imannya di tengah  keparawisataan.

Kepala Departemen Koinonia, Pdt. Dr. Deonal Sinaga menekankan kembali apa yang disampaikan Ephorus dan mengajak semua peserta  menjawab pertanyaan Ephorus dengan menjawab, "Yes, We Can"

Mantan Kepala Departemen Diakonia, Pdt. Nelson F. Siregar, S.Th mengarahkan peserta diskusi bagaimana kita menggunakan momen ini untuk mendirikan monumen hidup. Pdt. Nelson juga menyebutkan penetapan Danau Toba sebagai super prioritas wisata merupakan kairos, waktu Tuhan yang digunakan dengan efektif.

Sedangkan Tigor Siahaan, Fotografer senior menyampaikan bahwa  tidak ada tempat di dunia ini seindah  Bona Pasogit. Penetapan Danau Toba sebagai pusat parawisata merupakan  kebangkitan daerah Tano Batak. Berharap  jemaat dan penatua HKBP Lobutangga  Kesempatan harus dimanfaatkan secara baik. 

Lebih lanjut Tigor menerangkan konsep parawisata itu adalah spender, membelanjakan uang. Daerah  Parawisata harus bersih, nyaman dan manusianya harus jujur, sopan dan ramah. Letak dan view HKBP Lobutangga sangat indah.  Ketika ini ditata dengan baik, gereja HKBP Lobutangga menjadi  magnet bagi wisatawan dan jarak tempuhnya dengan Bandara Udara Internasional Silangit sekitar 30 menit.

Irjen. Pol. (Purn.) Soaloon Simatupang menyebutkan Pimpinan HKBP sangat peduli dan memperhatikan jemaatnya, secara khusus jemaat HKBP Lobutangga.  Dilanjutkan,  Ketua Parartaon HKBP Lobutangga mengiyakan arahan dan  program yang disampaikan Ephorus, yaitu menjadi Pargodungan HKBP Lobutangga sebagai percontohan gereja wisata. Dan  peserta lainnya menyetujui dan berharap Pimpinan HKBP, secara khusus Ephorus untuk senantiasa ikut membantu terwujudnya program ini.


Diskusi ini berakhir dengan kesepakatan akan melanjutkan pertemuan berikutnya. Dalam pertemuan lanjutan tersebut membicarakan design dan master plan HKBP Lobutangga sebagai model gereja wisata,  yang direncanakan pada tanggal 24 Mei 2021 ini. (B-TIK)


Pustaka Digital