Visitasi Yayasan STT HKBP ke Empat Kampus Teologi: “Menuju Pengelolaan Kampus yang Unggul Sumber Daya Manusia dan Akreditasi.”

“Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.” (Ams. 2:6)

Setelah dilantik oleh Ompui Ephorus pada 13 April 2024 lalu, Pengurus Yayasan STT HKBP langsung bekerja cepat. Salah satu program yang segera dilaksanakan ialah mengadakan kunjungan ke empat kampus teologi milik HKBP pada tanggal 21-22 Mei lalu.


Sebagaimana yang kita tahu, HKBP memiliki empat kampus teologi, yaitu Sekolah Tinggi Teologi (STT) berlokasi di Pematangsiantar, Sekolah Tinggi Guru Huria (STGH) berada di Sipoholon, Sekolah Tinggi Bibelvrouw (STB) terletak di Laguboti, dan Sekolah Tinggi Diakones (STD) berada di Balige. Keempat kampus inilah yang nanti akan disatukan di bawah pengelolaan Yayasan STT HKBP.


Pengurus Yayasan sangat antusias dalam kegiatan visitasi ini. Sebagian dari mereka memang belum pernah sebelumnya berkungjung ke kampus-kampus teologi milik HKBP. Pengurus yang mengikuti visitasi sepanjang dua hari ini antara lain Pdt. Daniel Taruliasi Harahap, St. Albert Simanjuntak, Pdt. Jhon Kristo Naibaho, Prof. Jongkers Tampubolon, Sandra Sidabutar, Josua Sagala, Pdt. Benny Sinaga, dan Chitra Panjaitan.


Tujuan visitasi ini terutama untuk bertemu, berkenalan, dan berdiskusi langsung dengan dosen-dosen dan tenaga kependidikan yang ada di empat kampus, menerima masukan yang sebanyak-banyaknya dari fungsionaris, dosen, dan tendik dalam rangka pengembangan pengelolaan kampus. Selain itu, pengurus juga berkeliling melihat langsung kondisi terkini kampus-kampus tersebut.

Dalam pemaparannya di depan para dosen dan tendik di tiap kampus, Ketua Umum Yayasan, Pdt. Daniel Harahap, menyatakan bahwa ada tiga alasan utama dibentuknya Yayasan STT HKBP: Pertama, keempat kampus dikelola menjadi satu kesatuan di bawah yayasan agar dapat bersama-sama memenuhi standar dan tuntutan peraturan pemerintah tentang pengelolaan perguruan tinggi. Ke depan, kampus-kampus teologi HKBP tidak lagi berjuang sendiri-sendiri, melainkan berjuang bersama agar sama-sama maju. Kedua, tata kelola yang profesional karena sudah ada yayasan yang khusus mengelola keempat kampus. Ketiga, efisiensi sumber daya manusia dan dana.


St. Albert Simanjuntak menambahkan, core business pendidikan ialah manusia, baik yang dididik dan yang mendidik. Oleh sebab itu, fokus kita ialah mendidik manusia (mahasiswa) agar unggul karakter dan intelektualitasnya. Bagaimana mereka dapat unggul? Tentu saja ditentukan oleh kualitas karakter dan intelektual para dosen dan tenaga kependidikannya. Menurut St. Albert, khusus bagi para dosen, harus ada komitmen dan kecintaan kuat atas panggilan untuk mengajar di kampus-kampus teologi, agar semua dosen terus memperbarui dan mengembangkan diri.


Ditambahkan oleh Ketum Yayasan, mimpi besar HKBP agar kampus-kampus teologinya berkualitas unggul harus dimulai dari hal-hal sederhana tapi esensial. Salah satu starting point untuk mimpi besar ini, ialah semua kampus milik HKBP harus bersih dan hijau sepanjang hari: halaman, ruang kantor dan kelas, toilet, asrama, rumah dinas, dan seluruh lingkungan kampusnya.

Dalam sesi diskusi, para dosen dan tenaga kependidikan banyak pula memberikan masukan dan harapan kepada Pengurus Yayasan. Salah satu yang disampaikan para dosen di keempat kampus ialah mereka berharap yayasan membantu meng-upgrade sumber daya manusia secara berkelanjutan untuk dosen dan tendik. Selain itu, yayasan diharapkan dapat membantu memperlengkapi fasilitas-fasilitas yang masih dibutuhkan untuk menopang kehidupan akademis di kampus-kampus, termasuk tenaga-tenaga administrasi yang mampu bekerja memenuhi tuntutan standar-standar akreditasi.




Pengurus Yayasan STT HKBP masih harus terus bekerja cepat untuk mempersiapkan semua dokumen yang dibutuhkan dalam proses penyatuan keempat lembaga pendidikan teologi ini. Diharapkan, semua dokumen sudah tersedia sebelum Agustus 2024.

(Yayasan STT HKBP/Biro TIK)

Pustaka Digital