Renungan Harian HKBP (Epistel) | 17 September 2023

JANGAN MENGHAKIMI

Selamat hari Minggu Bapak/Ibu, Saudara/i yang dikasihi Kristus, kita akan mendengarkan Firman Tuhan di Minggu XV Setelah Trinitatis ini, kita berdoa! 

Doa Pembuka: Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, itulah yang memelihara hati dan pikiranmu, dalam Kristus Yesus Tuhan kita, Amin.

Firman Tuhan bagi kita di minggu ini, tertulis pada Kejadian 50:15-21, demikian bunyinya:

15 Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: "Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya."

16 Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: "Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan:

17 Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu." Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya.

18 Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: "Kami datang untuk menjadi budakmu."

19 Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?

20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

21 Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.

Bapak/Ibu, saudara/i yang dikasihi Kristus, tindakan yang biasa kita lakukan ketika orang menyakiti kita adalah membalaskan rasa sakit itu. Hal ini begitu lazimnya kita lakukan bahkan kita jadikan sebagai obat penawar bahkan penyembuh rasa sakit yang kita rasakan. Sebaliknya, membalaskan kejahatan orang dengan kebaikan adalah tindakan yang sangat sangat jarang terjadi bahkan mustahil kita temukan. Namun hal ini dilakukan oleh Yusuf, anaknya Yakub. Kita tahu bagaimana penderitaan yang harus dialami Yusuf akibat kecemburuan dan kedengkian saudara-saudara Yusuf yang merencanakan membunuh Yusuf. Memang Yusuf tidak jadi dibunuh melainkan dijual pada pedagang sehingga Yusuf menjadi budak. Hak kebebasanya telah dijual oleh saudara-saudaranya. Setelah Yusuf dijual, maka sampailah ia di rumah Potifar, kepala pengawal raja Mesir yang telah membelinya. Selama berada di rumah Potifar, Tuhan menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya (kej. 39:1-2). Lalu Potifar memberikan kuasa atas rumahnya dan segala miliknya kepada Yusuf. Lalu, karena keelokan rupa Yusuf dan sikapnya yang baik, maka isteri Potifar menjadi jatuh hati dan menginginkan Yusuf, tapi Yusuf menolak. Akibatnya, isteri Potifar memfitnah Yusuf dengan mengatakan bahwa Yusuflah yang mengajaknya tidur, sehingga Potifar menjadi marah dan menangkap Yusuf lalu dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahan raja dikurung. 

Bapak/ibu yang dikasihi Kristus, penderitaan Yusuf semakin bertambah-tambah, bukan hanya kebencian saudara-saudaranya yang menjualnya menjadi budak, Yusuf juga difitnah sehingga masuk penjara. Namun, perangai Yusuf tetap baik dan selalu melakukan yang baik di mata Tuhan, sehingga Tuhan menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setiaNya dan membuat Yusuf menjadi kesayangan kepala penjara. Lalu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf. Lihatlah, bagaimana Tuhan senantiasa menyertai dan memberkati hambaNya yang selalu setia padaNya, seperti Yusuf yang tetap setia berbuat seturut dengan kehendak Tuhan walau penderitaan silih berganti, namun pada akhirnya penyertaan Tuhan dan berkatNya akan tetap kita rasakan memberikan kebahagiaan dan memkai hidup kita menjadi berkat. Itulah yang terjadi pada Yusuf, setelah ia mampu mengartikan mimpi Raja Firaun, maka raja memberikan kuasa atas seluruh tanah Mesir pada Yusuf. Di saat Yusuf telah menjadi orang nomor 2 di tanah Mesir setlah Raja Firaun, maka terjadilah kelaparan di seluruh negeri dan hanya di Mesirlah ada lumbung-lumbung gandum yang telah dipersiapkan Yusuf. Lalu sampailah saudara-saudara Yusuf ke Mesir memebeli gandum untuk melanjutkan kehidupan mereka. Dan di sinilah Yusuf bertemu dengan mereka. Lalu, apa yang terjadi setelah mereka bertemu? Apakah Yusuf membalaskan sikap jahat saudara-saudaranya? Firman Tuhan minggu ini memberitahukan bagi kita semua bagaimana Yusuf membalas kejahatan saudara-saudaranya dengan kebaikan. Dia tidak membalas dendam, namun dia melihat bahwa niat jahat saudara-saudaranya dipakai Tuhan untuk membentuk Yusuf menjadi seorang yang berhasil agar kelak dapat menolong saudara-saudaranya. 

Jemaat yang dikasihi Kristus, marilah kita meniru sikap Yusuf yang tidak membenci saudara-saudarnya yang telah membuat hidupnya menderita, namun kjustru dia melihat bahwa Allah mengijinkan penderitaan yang dialaminya adalah cara Allah membentuk hidupnya untuk menjadi alat saluran berkat Tuhan, Amin.

Doa Penutup: Terima kasih Tuhan atas FirmanMu yang mengingatkan kami agar tidak menjadi hakim apalagi membalaskan kejahatan orang lain, tetapi yang dinginkan Tuhan bahwa kita dapat melihat rencana jahat orang terhadap hidup kita bisa dipakai Tuhan mempersiapkan hidup kita menjadi orang yang besar sehingga dapat menjadi saluran berkat Tuhan. Ya Tuhan yang Maha Kasih, tetaplah taruh kasihMu di dalam diri kami, sehingga setiap hal yang akan kami lakukan , semuanya berdasarkan kasih Tuhan. dalam Kristus Yesus, kami berdoa. Amin.

Tuhan memberkati Engkau dan melindungi engkau. Tuhan menyinari engkau dengan wajahNya dan memberi engkau kasih karunia. Tuhan menghadapkan wajahNya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera, Amin.

Pdt. Emilda Sibarani, S.Th – Melayani di Biro Sending HKBP

Pustaka Digital